Iklan

Iklan

Menolak Lupa! Misteri Tragedi Kematian Marsinah Aktivis Buruh Yang Dibungkam

20/10/20, 18:19 WIB Last Updated 2021-05-24T04:05:55Z

ilustrasi mozaik Marsinah

NET24JAM.ID - Tepat 1 Mei setiap tahunnya Hari Buruh Internasional selalu diperingati di seluruh dunia termasuk Indonesia.


Bicara soal Hari Buruh di Indonesia, tak bisa dilepaskan dari sosok aktivis wanita sang pahlawan kaum buruh yakni Marsinah.


Lalu, siapakah sosok Marsinah ini sebenarnya? Bagaimana ia menjalani hidupnya? Mari kita ikuti artikel berikut ini, "Menolak Lupa! Tragedi Berdarah Marsinah Pahlawan Buruh Yang Dibungkam". 


Awal Perjalanan Marsinah

Marsinah lahir pada 10 April 1969 di Nglundo sebuah pedesaan yang berada di Kabupaten Nganjuk Provinsi Jawa Timur.


Marsinah adalah gadis biasa dari kampung, dia mengadu nasib di kota untuk memperbaiki hidup keluarga sebagai baktinya kepada orang tua. 


Wanita ini lahir dari keluarga yang bersahaja di desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk Provinsi Jawa Timur.


Marsinah terlahir sebagai anak kedua dari tiga bersaudara yang semuanya adalah perempuan. Kakaknya bernama Marsini sementara adiknya diberi nama Wijati, sedangkan ayahnya bernama Ebrama Astin dan Ibunda Marsinah bernama Sumini.


Konon menurut ceritanya, kala Marsinah berusia tiga tahun dan adiknya masih berusia 40 hari. Ayah Marsinah yakni Ebrama Astin lalu menikah lagi dengan Sarini seorang wanita yang berasal dari desa lain. 


Sejak ayahnya menikah lagi, Marsinah diasuh oleh sang nenek yang bernama Paerah, tinggal bersama paman dan bibinya.


Di hadapan teman-teman sekolah dan gurunya, di SD Negeri Nglundo, Marsinah adalah murid biasa dengan nilai yang biasa-biasa saja. 


Hanya, Marsinah memiliki minat baca tinggi, dan rajin belajar. Dia memiliki sikap kritis dan bertanggung jawab. Hampir semua tugas sekolah selalu ia selesaikan dengan kerja keras di tengah pekerjaannya. Apabila ia tidak paham atas penjelasan gurunya, Marsinah tidak segan-segan bertanya.


Ketika mulai berpijak di kelas enam Sekolah Dasar, Marsinah pindah sekolah ke SD Negeri Karangsemi dan melanjutkan ke SMP Negeri lima Nganjuk pada tahun ajaran 1981/1982. Seperti murid lainnya, Marsinah juga berusaha untuk masuk ke SMA Negeri.


Namun, upaya Marsinah ini ternyata gagal, yang kemudian akhirnya ia memilih masuk ke SMA Muhammadiyah dengan bantuan biaya dari salah seorang pamannya. 


Di Sekolah Menengah Atas inilah, minat baca Marsinah meningkat. Di waktu senggang, Marsinah lebih memilih ke perpustakaan daripada bermain bersama teman sebayanya. 


Ketika itu, Marsinah menemukan mimpinya ingin belajar di Fakultas Hukum. Akan tetapi apalah daya, mimpi itu harus kandas disebabkan situasi ekonomi yang tidak memungkinkan.


Akhirnya, Marsinah tidak punya pilihan lain selain bekerja di kota besar, seperti teman-temannya yang lain.


Marsinah Meniti Hidup Sebagai Buruh

Pada tahun 1989, Marsinah berangkat ke Surabaya dan menumpang tempat tinggal di rumah kakaknya yaitu Marsini yang kala itu sudah berkeluarga.


Meskipun berulang kali gagal melamar kerja di berbagai perusahaan, hal itu tak menyurutkan semangat Marsinah.


Perjuangan wanita ini akhirnya menumbuhkan hasil, Marsinah diterima bekerja di salah satu pabrik plastik bernama SKW di kawasan industri Rungkut.


Kendati upah yang diterima Marsinah jauh dari cukup. Dirinya terus berusaha untuk menambah penghasilan, Marsinah berdagang nasi bungkus di sekitar perusahaan dengan harga Rp 150 per bungkus.


Pada tahun 1990, Marsinah bekerja di PT. Catur Putra Surya (CPS). Di kawasan industri Rungkut ini pula Marsinah sempat bekerja disalah satu perusahaan pengemasan barang.


Perjuangan Marsinah Untuk Kaum Buruh



Bekerja sebagai buruh PT. CPS, Marsinah aktif bersama kawan-kawannya menuntut berdirinya unit serikat pekerja formal (SPSI). Tentu saja langkah ini tidak disukai pihak perusahaan, hingga akhirnya Marsinah dimutasi pihak manajemen ke cabang PT.CPS di Porong, Sidoarjo Provinsi Jawa Timur di awal tahun 1992.


Disini, Marsinah tinggal di kos-kosan buruh, Desa Siring dan bekerja sebagai operator mesin bagian injeksi. Dia diupah sebesar Rp 1.700 dan uang hadir sebesar Rp 550 per hari.


Meski tidak termasuk dalam kepengurusan SPSI, namun secara informal Marsinah sering terlibat dalam diskusi-diskusi perburuhan.


Suatu ketika, pertengahan April 1993, para buruh PT. CPS, Porong Sidoarjo mengetahui informasi Gubernur Jawa Timur telah menetapkan kenaikan upah buruh sebesar 20 persen dari upah pokok.


Ketika itu buruh PT CPS digaji Rp1.700 qper bulan. Padahal berdasarkan KepMen 50/1992, diatur bahwa UMR Jawa Timur adalah Rp2.250. Pemerintah Surabaya meneruskan aturan itu dalam bentuk Surat Edaran Gubernur KDH Tingkat I, Jawa Timur, 50/1992, isinya meminta agar para pengusaha menaikkan gaji buruh 20 persen.


Tentu saja, para buruh senang mendengarnya. Mirisnya, pihak perusahaan tidak bersedia melaksanakan keputusan pemerintah tersebut. Hal ini, memicu keresahan buruh PT. CPS yang kemudian bersepakat melakukan aksi mogok kerja.


Marsinah dikenal sosok buruh wanita yang sangat energik dan progresif serta tidak ingin mengalah begitu saja kepada nasib.


Marsinah selalu aktif di berbagai aksi unjuk rasa buruh. Keterlibatan Marsinah dalam aksi unjuk rasa tersebut antara lain terlibat dalam rapat yang membahas rencana unjuk rasa pada 2 Mei 1993 di Tanggulangin, Sidoarjo.


Pada 3 Mei 1993 para buruh mencegah teman-temannya bekerja. Komando Rayon Militer (Koramil) setempat turun tangan mencegah aksi buruh.


Kemudian pada 4 Mei 1993, para buruh mogok total mereka mengajukan 12 tuntutan, termasuk perusahaan harus menaikkan upah pokok dari Rp1.700 per hari menjadi Rp2.250. Tunjangan tetap Rp550 per hari mereka perjuangkan dan bisa diterima, termasuk oleh buruh yang absen.


Hingga 5 Mei 1993, Marsinah masih aktif bersama rekan-rekannya dalam kegiatan unjuk rasa dan perundingan-perundingan. 


Tak hanya itu saja, Marsinah juga menjadi salah seorang dari 15 orang perwakilan karyawan yang melakukan perundingan dengan pihak perusahaan.


Pembunuhan Marsinah dan Catatan Kekejian Orde Baru

Pada 5 Mei 1993 tepatnya di siang hari, Marsinah tidak hadir, terdapat 13 buruh yang dianggap menghasut unjuk rasa digiring ke Komando Distrik Militer (Kodim) Sidoarjo. 


Di tempat itu para buruh dipaksa mengundurkan diri dari CPS. Mereka dituduh telah menggelar rapat gelap dan mencegah karyawan masuk kerja. 


Pada era orde baru, adalah hal lazim bila militer ikut campur dalam perselisihan industri. Mereka bukanlah aparat yang disewa perusahaan untuk menghadapi buruh, namun memang memiliki keleluasaan untuk ikut campur. Maklum di era orde baru, militer memegang kekuasaan.


Marsinah sempat membuat beberapa catatan tertulis untuk teman-temannya sebagai petunjuk jawaban ketika ditanyai pihak Kodim. 


Kepada teman-temannya, Marsinah menyampaikan akan membawa persoalan ini ke pamannya di Kejaksaan Surabaya bila mendapat ancaman dari kodim.


Dengan semangat membara untuk memperjuangkan nasib buruh, Marsinah mendatangi Kodim Sidoarjo untuk menanyakan keberadaan rekan-rekannya yang sebelumnya dipanggil pihak Kodim. 


Dalam panggilan yang dilakukan pihak Kodim terhadap 13 buruh, mereka dipaksa menandatangani surat pengunduran diri di atas kertas bermaterai. Karena tak sanggup menghadapi intimidasi, akhirnya para buruh tersebut menandatangani surat pengunduran diri dan menerima uang pesangon serta uang kebijaksanaan.


Keesokan paginya, pada 6 Mei 1993, Marsinah berjumpa dengan salah satu temannya dan meminta informasi perkembangan pertemuan dengan Kodim. Di kosnya, Marsinah mendapat kabar bahwa 13 temannya telah menerima pesangon dan menandatangani surat pengunduran diri. 


Sorenya, Marsinah mengcopy surat pengunduran diri tersebut dan berencana membagikannya ke buruh PT. CPS. Awalnya surat itu hendak disampaikan ke Ketua SPSI PT. CPS namun tidak jadi karena gagal menemukan rumah Ketua SPSI PT. CPS. Akhirnya, surat itu disampaikannya lewat satpam perusahaan.


Di perempatan Desa Siring, Marsinah bertemu 4 dari 13 temannya tersebut. Karena ingin mengetahui lebih jelas apa yang telah terjadi, Marsinah mengajak dua diantaranya untuk berdiskusi di teras kos nya. 


Di situlah, Marsinah menjadi terkejut mengetahui 13 temannya dipaksa menandatangani surat pengunduran diri dan telah di PHK bukan oleh perusahaan tapi Kodim. Terakhir ia pergi, Marsinah mengenakan kaos putih, rok coklat dan bersandal jepit. 


Malam itu, Rabu 5 Mei 1993 adalah malam terakhir Marsinah terlihat oleh teman-temannya. Sepengetahuan teman-temannya, ia sempat mengajak temannya untuk membeli makanan namun karena sudah larut malam, yakni sekitar jam 10 malam, kedua temannya itu menolak. Mereka berpisah di bawah pohon Mangga, dekat Tugu Kuning Desa Siring.


Sejak saat itulah ia ‘hilang’. Tak ada yang mengetahui kemana Marsinah pergi. Mungkin ia pergi makan, atau bertemu seseorang, yang mungkin ‘menculiknya’. Atau mungkin Marsinah kembali ke Makodim Sidoarjo? Yang bisa dipastikan tidak kembali ke kosan malam itu. Ia tidak pergi ke pabrik. Ia juga tidak berkunjung ke rumah pamannya di Surabaya.




Di usianya yang masih teramat muda, aktivis wanita satu ini terkenal sebagai sosok berlidah tajam dan organisatoris terpelajar. Mirisnya, sang pejuang buruh tersebut yang rajin mengkliping berita koran itu nyala kritisnya dipetangkan rezim orde baru yang dikenal pada saat itu sebagai rezim otoriter. Marsinah dibunuh ketika masih berusia 24 tahun.


Satu bulan sebelum Marsinah dibunuh, Presiden Soeharto menghadiri pertemuan Hak Asasi Manusia di Thailand. Dalam forum itu, Soeharto menyatakan RUU Hak Asasi Manusia yang dicanangkan PBB tidak bisa diterapkan di negara-negara Asia. Jenderal yang dijuluki si tangan besi itu menjelaskan, di Asia warga tak bisa bebas mengkritik pemimpinnya, beda dengan budaya Barat.


Soeharto juga menekankan bahwa warga negara wajib menunjukkan rasa hormat pada pemimpin mereka, sebagaimana anggota keluarga pada kepala keluarga. Hal itu diuraikan Leena Avonius and Damien Kingsbury dalam “From Marsinah to Munir: Grounding Human Rights in Indonesia" yang terbit tahun 2008.


Soeharto melakukan intervensi yang kuat untuk memonitor dan mengatur protes buruh. Dia memiliki perangkat Surat Keputusan Bakorstanas No.02/Satnas/XII/1990 dan Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. 342/Men/1986. Jika ada perselisihan antara buruh dengan pengusaha, maka yang berhak memediasi adalah militer. Tak heran, para pekerja yang kritis dan mencolok harus kuat menghadapi intimidasi dan penangkapan.


Pada 8 Mei 1993, Marsinah ditemukan sudah tak bernyawa di sebuah gubuk pematang sawah di Desa Jagong, Nganjuk. Jenazahnya divisum di Rumah Sakit Umum Daerah Nganjuk pimpinan Dr. Jekti Wibowo.


Hasil visum et repertum menunjukkan adanya luka robek tak teratur sepanjang 3 sentimeter dalam tubuh Marsinah. Luka itu menjalar mulai dari dinding kiri lubang kemaluan (labium minora) sampai ke dalam rongga perut. 


Di dalam tubuhnya ditemukan serpihan tulang dan tulang panggul bagian depan hancur. Selain itu, selaput dara Marsinah robek. Kandung kencing dan usus bagian bawahnya memar. Rongga perutnya mengalami pendarahan kurang lebih satu liter.


Setelah dimakamkan, jenazah Marsinah diotopsi kembali. Visum kedua dilakukan tim dokter dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya. 


Menurut hasil visum, tulang panggul bagian depan hancur. Tulang kemaluan kiri patah berkeping-keping. Tulang kemaluan kanan patah. Tulang usus kanan patah sampai terpisah. Tulang selangkangan kanan patah seluruhnya. Labia minora kiri robek dan ada serpihan tulang. Ada luka di bagian dalam alat kelamin sepanjang 3 sentimeter. Juga pendarahan di dalam rongga perut.


Disiksa Militer Dan Dipaksa Mengakui Membunuh Marsinah

Pada 30 September 1993 telah dibentuk Tim Terpadu Bakorstanasda Jatim untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan kasus pembunuhan Marsinah. Sebagai penanggung jawab Tim Terpadu adalah Kapolda Jatim dengan Dan Satgas Kadit Reserse Polda Jatim dan beranggotakan penyidik/penyelidik Polda Jatim serta Den Intel Brawijaya.


Tanpa surat penangkapan, aparat militer berbaju preman mencokok dua satpam dan tujuh pimpinan PT CPS. 


Penangkapan itu dibumbui tindakan kekerasan, semua diseret paksa dan kepala Karyono Wongso, Kabag Produksi PT CPS, ditetak aparat militer dengan gagang pistol. Mereka digelandang ke Markas Detasemen Intel (Den Intel) Kodam V Brawijaya Wonocolo.


Bambang Wuryantoyo ketika itu berusia 38 tahun, yang bekerja di bagian pengawas umum PT CPS, disiksa dan ditelanjangi. Kemaluannya disetrum berulang-kali. Saat interogasi, kakinya ditindih kaki meja. Kemaluan dan perutnya disundut rokok.


Di salah satu kamar mandi Kodam V Brawijaya seorang petugas militer kencing di dalam gayung. Soeprapto, 23 tahun, satpam PT CPS dipaksa meminum air kencing itu. Penisnya digebuk pakai seikat sapu lidi dan disetrum. Mulut Soeprapto disumpal celana untuk meredam jeritannya saat disiksa. Kepalanya ditetak dan ketiaknya disulut rokok.


Rekan Soeprapto yang juga berprofesi sebagai satpam, yakni Ahmad Sution Prayogi, 58 tahun, tak bisa mengunyah makanan selama lima hari. Sebab aparat militer merontokkan giginya.


Sedangkan Mutiari, 27 tahun, ketua bagian personalia PT CPS adalah satu-satunya perempuan dalam penyekapan di Kodam V Brawijaya itu. 


Dia dihantam kekerasan verbal. Mutiari diancam akan ditelanjangi dan disetrum. Mutiari juga diperdengarkan dan diperlihatkan orang lain yang sedang disiksa. 


Penyiksaan itu menyebabkan Mutiari kehilangan bayi yang sudah dikandungnya selama tiga bulan. Ia keguguran saat itu juga.


Pada 21 Oktober 1993, aparat Kodam V Brawijaya menyerahkan mereka ke Polda Jawa Timur. Siksaan verbal maupun fisik juga mereka rasakan di Polda Jatim, meski dengan intensitas yang lebih rendah.


Mereka diputus bersalah dan divonis penjara oleh Pengadilan Negeri Surabaya dan Pengadilan Tinggi Surabaya, kecuali Yudi Susanto yang dibebaskan hakim Pengadilan Tinggi Surabaya. 


Jaksa Penuntut Umum yang menolak putusan bebas terhadap Yudi Susanto kemudian mengajukan permohonan kasasi ke MA, permohonan kasasi juga diajukan delapan terdakwa lainnya. 


Pada 3 Mei 1995, Mahkamah Agung (MA) memvonis bahwa sembilan terdakwa tak terbukti melakukan perencanaan dan membunuh Marsinah. 


Hal itu tercatat dalam penelitian Iyut Qurniasari dan I.G. Krisnadi yang termuat di Jurnal Publika Budaya Universitas Jember berjudul "Konspirasi Politik dalam Kematian Marsinah di Porong Sidoarjo Tahun 1993-1995".


Kesaksian Ahli Forensik

Abdul Mun’im Idries, dokter dari Instalasi Kedokteran Kehakiman (IKK) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia turut ambil bagian sebagai saksi ahli. Dalam persidangan dia memaparkan kejanggalan barang bukti, kesaksian, dan hasil visum. 


Menurutnya, visum pertama tak sesuai standar pemeriksaan jenazah karena hanya bersifat parsial.


Dalam bukunya bertajuk Indonesia X-Files (2013), Idries mengungkapkan bahwa barang bukti proses peradilan berupa balok janggal. 


Ukuran balok yang digunakan menyodok bagian genital tubuh Marsinah tak sesuai dengan besar luka pada korban yakni 3 sentimeter. Menurutnya, satu luka pada bagian kelamin Marsinah tak sesuai dengan jumlah terduga pelaku yang berjumlah tiga orang.


Idries menegaskan bahwa pendarahan bukan penyebab kematian Marsinah, melainkan tembakan senjata api.


"Melihat lubang kecil dengan kerusakan yang masif, apa kalau bukan luka tembak?" ungkap Idries dalam tayangan Mata Najwa: X-File edisi 18 September 2013.


"Pelakunya siapa yang punya akses senjata," lanjut Idries. “Kita kan enggak bebas memiliki senjata."


Sembilan terdakwa dibebaskan, tapi siapa pembunuh Marsinah hingga kini tak pernah diungkap pengadilan.


“Persidangan dimaksudkan untuk mengaburkan militer tanggung jawab atas pembunuhan itu," tulis Amnesty Internasional dalam laporannya, Indonesia: Kekuasaan dan Impunitas: Hak Asasi Manusia di bawah Orde Baru.


Trimoelja D Soerjadi, pengacara Marsinah, menuturkan, semua terdakwa secara bengis disiksa dan dianiaya. Intervensi militer itu adalah “Pengalaman yang getir, menyakitkan dan paling mengerikan serta menakutkan," kata Soerjadi saat menerima Yap Thiam Hien Award untuk Marsinah di Jakarta pada 10 Desember 1994.


"Kematian Marsinah adalah misteri, kematian Marsinah adalah luka yang ditorehkan pada keadilan".


Dirangkum oleh Ridwan Fahlevi dari berbagai sumber yang dapat dipercaya. Dengan harapan dapat terungkap pelaku sebenarnya yang hingga kini masih menjadi misteri.

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Menolak Lupa! Misteri Tragedi Kematian Marsinah Aktivis Buruh Yang Dibungkam

Terkait

Iklan