Iklan

Fakta Mencengangkan di Balik Sepak Terjang Idham Azis

31/01/21, 16:20 WIB Last Updated 2021-01-31T09:20:19Z



JAKARTA, NET24JAM.ID - Idham Azis, M.Si., pria kelahiran Kendari Sulawesi Tenggara pada 30 Januari 1963, adalah seorang purnawirawan Polri yang menjabat sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) sejak November 2019 hingga Januari 2021.


Pria yang saat ini berusia 58 tahun tersebut, menjadi Kapolri menggantikan Tito Karnavian. Pada masa akhir jabatannya, Idham digantikan oleh Listyo Sigit Prabowo.


Putra dari pasangan Abdul Azis Halik dan Tuti Pertiwi ini menempuh pendidikan dasar di SD Kampung Salo pada tahun 1976, lalu melanjutkan ke pendidikan menengah di SMP 2 Kendari pada tahun 1979, dan menyelesaikannya di SMA 1 Kendari pada tahun 1982.


Idham kemudian mencoba mengikuti tes masuk AKABRI Kepolisian (sekarang AKPOL), tetapi dirinya tidak lolos. Sembari menunggu tes yang akan digelar tahun berikutnya, Idham masuk ke Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo. 


Pada kesempatan berikutnya, dia kembali mencoba tetapi gagal lagi. Baru pada tahun 1988, Idham akhirnya diterima masuk dan menjadi bagian dari AKABRI Kepolisian A angkatan 1988 (AKPOL 1988 A).


Idham kemudian bertemu dengan Fitri Handari yang merupakan alumni dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia angkatan 1993. 


Mereka kemudian menikah dan memiliki empat orang anak, yaitu Ilham Urane Azis, Irfan Urane Azis, Firda Athira Azis, dan Pandu Urane Azis. Istilah "urane" merupakan kata dalam bahasa Bugis yang berarti anak.


Idham termasuk polisi yang mendapat kenaikan pangkat cukup cepat saat tergabung dalam tim Bareskrim, dengan prestasi melumpuhkan teroris Dr. Azahari dan kelompoknya di Batu, Jawa Timur, pada 9 November 2005 yang lalu.  


Dirinya mendapat penghargaan dari Kapolri saat itu yakni Jenderal Sutanto, bersama dengan para kompatriotnya, Tito Karnavian, Petrus Reinhard Golose, Rycko Amelza Dahniel, dan kawan-kawan.


Pada malam 10 November 2005, Brigjen. Pol. Surya Dharma memanggil dan memerintahkan Idham Azis untuk berangkat ke Poso. 


Keesokan harinya, Idham terbang dari Surabaya menuju Palu dan tiba di Poso pada sore harinya untuk langsung bergabung dengan Tito Karnavian yang sudah berada di sana. 


Tito memintanya untuk menjadi wakilnya dalam kasus investigasi mutilasi tiga gadis SMA Kristen yang terjadi di Poso. 


Pada 12 November 2005, Idham Azis resmi menjadi Wakil Ketua Satgas Bareskrim Poso, mendampingi Tito Karnavian.


Pada 3 Oktober 2014, Idham menggantikan Brigjen Pol. Ari Dono Sukmanto sebagai Kapolda Sulawesi Tengah. 


Jabatan tersebut diembannya hingga 1 Maret 2016, ketika dirinya digantikan oleh Brigjen Pol. Rudy Sufahriadi. Idham kemudian dimutasi menjadi Inspektur Wilayah II Inspektorat Pengawasan Umum Polri.


Idham dilantik menjadi Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Polri (Kadiv Propam), menggantikan Irjen. Pol. Mochamad Iriawan.


Idham dipilih karena pernah bertugas di daerah konflik, khususnya Poso. Idham kembali menggantikan posisi Iriawan sebagai Kapolda Metro Jaya pada 26 Juli 2017. Menurut Tito selaku Kapolri, Idham dipilih karena pernah lama bertugas di Polda Metro Jaya.


Pada 28 Januari 2019, Idham ditunjuk sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal Polri (Kabareskrim) menggantikan Komjen. Pol. Arief Sulistyanto. Posisinya sebagai Kapolda Metro Jaya dilanjutkan oleh Irjen. Pol. Gatot Eddy Pramono. 


Pada 23 Oktober 2019, Presiden Joko Widodo mengusulkan nama Idham Azis sebagai calon tunggal Kapolri untuk menggantikan Tito Karnavian yang diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri. 


Pada 30 Oktober 2019, Komisi III DPR-RI yang dipimpin oleh Herman Hery menggelar uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) terhadap Idham. 


Rapat pleno Komisi III memutuskan bahwa mereka menyetujui pencalonan Idham Azis secara aklamasi. 


Keputusan ini disahkan oleh Puan Maharani selaku Ketua DPR-RI dalam sidang paripurna yang digelar sehari setelahnya. Presiden Jokowi resmi melantik Idham Azis sebagai Kapolri pada 1 November 2019 dan berakhir Januari 2021 yang digantikan oleh Listyo Sigit Prabowo.


Idham Azis mengaku tak mempunyai rencana khusus begitu masa purna tugas sebagai Kapolri. 


Dia hanya membayangkan makin sering berkumpul dengan keluarga. Dan yang pasti Idham selalu rindu Kendari, disana dia ingin memancing sepuas-puasnya dan berkebun.


Idham juga akan terus menjalankan hobinya bermain bulu tangkis dan memelihara ikan arwana.


Dalam bukunya berjudul " Idham Azis Sang Elang Pemimpin" , Idham bercerita mulai memelihara ikan yang gerakannya anggun ini sejak masih berpangkat letnan dua.


Dia membeli ikan pertamanya di Pasar Ciroyom, tanpa memusingkan apa falsafah dibalik gerak-gerik si arwana. 


Saat ini, dia mempunyai enam ekor di rumah pribadinya. Dia membeli karena senang saja tidak investasi, karena kadang ikan tersebut malah dihadiahkan kepada orang lain.


Idham juga mulai memelihara sembilan ekor koi yang panjangnya satu meter. Dia juga memiliki burung cucak rawa dan murai yang suaranya bagus. 


Selain itu, ada dua penyanyi legendaris Indonesia yang dikagumi mantan Kapolri ini yakni Iwan Fals dan Ebit G Ade.


Sebelum Idham menempati jabatan Kapolda Metro Jaya, dia masih ngeles saat diminta bernyanyi di depan publik. Dia juga tak pernah mendatangi rumah menyanyi alias karaoke untuk berdendang bersama rekan-rekannya. Idham lebih suka bernyanyi di rumah dengan gitarnya.


Setelah menjadi Kapolri, salah satu yang membahagiakan dirinya adalah bisa bertemu dan berduet dengan Iwan dan Ebit. 


Dia pernah membawakan lagu "Ayah" bersama Ebit dan "Ibu" bersama Iwan. "Lagu Ibu adalah yang paling saya suka. Liriknya saya banget itu," kata Idham di bukunya.


Duet Idham dengan Iwan Fals terjadi pada acara Rapim Polri awal 2020. Pada kesempatan itu, Iwan mengaku bangga punya fans seorang Kapolri.


Selama menjabat Kapolri, Idham Azis tidak pernah dihinggapi ketakutan tak bisa menjalankan amanah. Dia punya tim yang solid, perintah Presiden terjabarkan dan bisa dilaksanakan.


Dia juga tidak terlalu berminat menanggapi suara sumbang yang ditunjukkan kepadanya saat menjalankan tugas. Baginya, itu riak kecil saja.


Idham merasa bahwa perjalanannya menjadi orang nomor satu di Korps Bhayangkara yang membawahi 450.000 personel sepenuhnya berkat campur tangan Allah SWT dan dinadinya mengalir doa sang ibunda.


Dirangkum oleh Ridwan dari berbagai sumber yang dapat dipercaya sebagai wujud apresiasi kinerja Jenderal Polisi (Purn) Idham Azis selama menjabat sebagai Kapolri.

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Fakta Mencengangkan di Balik Sepak Terjang Idham Azis

Terkait

Iklan