Iklan

Iklan

Tanggapan Praktisi Hukum dan Fenomena Emak-Emak Gerebek Judi di Wilkum Polres Pelabuhan Belawan

06/01/21, 02:23 WIB Last Updated 2021-05-24T04:05:27Z

Eka Putra Zakran, SH.

MEDAN, NET24JAM.ID - Perjudian yang jelas-jelas dilarang agama serta melanggar hukum di Indonesia. Namun, pada praktiknya geliat bisnis judi di wilayah hukum (Wilkum) Polres Pelabuhan Belawan kian menggurita.


Melihat fenomena ini, masyarakat di Wilkum Polres Pelabuhan Belawan semakin khawatir dan resah kalau perjudian itu akan terus mewabah serta merusak generasi muda.


Sementara Kapolda Sumatera Utara (Sumut) Irjen Pol Martuani Sormin sudah jelas-jelas mengintruksikan seluruh Polres di jajaran Polda Sumut untuk menindak tegas semua bandar Narkoba dan semua bentuk Perjudian. Hal itu disampaikan Irjen Pol Martuani Sormin jelang Hari Bhayangkara ke 74 tahun 2020 saat kunjungannya ke Polres Batubara pada 30 juni 2020 lalu.


Akan tetapi kegiatan bisnis perjudian tetap saja beroperasi dan terkesan kebal hukum.


Kendati pihak Kepolisian telah melakukan penggrebekan, namun si bos besar bandar judi sering lolos dari jeratan hukum.


Masyarakat hanya bisa berharap aparat penegak hukum melakukan tindakan tegas dan berani menutup seluruh praktek perjudian di wilayah hukum Polres Pelabuhan Belawan.


Masyarakat selalu bertanya, apakah seluruh judi di wilayah hukum Polres Pelabuhan Belawan tidak bisa ditutup? Kemanakah para aparat penegak hukum disaat perjudian semakin marak? Lantas, apakah hukum bisa dikalahkan oleh para bandar judi? Hingga saat ini masih belum juga ada jawaban yang pasti.


Ketika Emak-Emak Beraksi Menumpas Praktek Perjudian

Semakin lama wujud kebulatan tekad masyarakat memuncak, seakan tidak menemukan solusi dari aparat penegak hukum.


Dikatakan demikian, pasalnya puluhan emak-emak di Kelurahan Mabar Kecamatan Medan Deli Kota Medan Provinsi Sumatera Utara mengamuk serta menghancurkan mesin dan tempat judi dindong tembak ikan, pada Minggu (3/1/2021) lalu. Sedikitnya ada lima lokasi judi yang di gerebek para ibu rumah tangga ini.


Tak hanya itu, para ibu rumah tangga ini juga menyeret mesin judi keluar salah satu tempat hingga menjadi tontonan masyarakat yang lewat di lokasi tersebut.


Sebelumnya, puluhan massa yang didominasi kaum ibu (emak-emak) di lingkungan 18-19-20, tepatnya di belakang Kantor Kelurahan Pekan Labuhan Kecamatan Medan Labuhan Kota Medan Provinsi Sumatera Utara, menghancurkan lokasi judi dan tempat peredaran sabu, di bantaran Sungai Deli.


Fachruni dari MUI Medan Labuhan mengatakan, sedikitnya ada tujuh bangunan gubuk di pinggir Sungai Deli dihancurkan. 


“Warga bersama petugas, para emak-emak merubuhkan bangunan-bangunan itu,” kata Ustadz Fachruni, Minggu (6/12/2020) yang lalu.


Tanggapan Praktisi Hukum

Menanggapi fenomena aksi emak-emak yang menghancurkan lokasi perjudian di wilayah hukum Polres Pelabuhan Belawan khususnya di Mabar Kecamatan Medan Deli tersebut, Eka Putra Zakran, SH., Praktisi Hukum Kota Medan menyampaikan, tindakan itu merupakan puncak dari kemarahan masyarakat yang dalam hal ini di representasikan oleh kelompok dari kaum Ibu (emak-emak).


"Sejatinya tindakan tersebut tidak perlu dilakukan, jika aparat hukum bertindak tegas dalam mengawasi dan meminimalisir Pekat (Penyakit Masyarakat) dalam hal ini khususnya adalah judi," ujar Eka Putra, Selasa (5/1/2021).


Menurutnya, dampak dari perjudian sangatlah fatal dan tindakan melanggar hukum di negara Republik Indonesia.


"Makanya wajar dong jika emak-emak itu mengamuk dan menggerebek lokasi judi tersebut, karena dampak dari perjudian ini fatal. Dikarenakan judi orang jadi pemalas, rumah tangga berantakan, membuat orang menjadi miskin, membuat stres dan merupakan tindak pidana. Artinya karena judi orang bisa masuk penjara. Hal itu diatur dalam pasal 303 KUHP ayat (1) diancam dengan pidana kurungan maksimal 4 tahun penjara," ungkap mantan Ketua Pemuda Muhammadiyah Kota Medan ini. 


Oleh karena itu, lanjut Eka Putra, judi hanya membuat orang kecanduan, malas bekerja dan ujungnya meningkatnya kriminalitas. 


"Awalnya judi, setelah itu nanti muaranya ke pencurian, perampokan, pembunuhan dan lain sebagainya," lanjut pengacara muda tersebut yang lebih dikenal dengan sebutan Epza.


"Intinya aparatur penegak hukum, kalau tegas ya tidak mungkin ada permainan judi. Sebab itu penyakit masyarakat dan harus ditutup agar kehidupan masyarakat menjadi tertib dan terarah," pungkasnya.


(Ridwan)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Tanggapan Praktisi Hukum dan Fenomena Emak-Emak Gerebek Judi di Wilkum Polres Pelabuhan Belawan

Terkait

Iklan