Iklan

Iklan

Terkait Dumas, Polisi Diminta Usut Intimidasi Ibu dan Anak di Medan Marelan

21/01/21, 03:29 WIB Last Updated 2021-01-20T20:29:14Z

ilustrasi gambar

MEDAN, NET24JAM.ID - Jamilah (57) beserta dua orang anaknya yakni Siti Rubianti, SPd., dan Ananda Muhammad Dandi, warga Jalan Marelan I lingkungan V Pasar 4 Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan Provinsi Sumatera Utara, diduga menjadi korban intimidasi oleh sekelompok orang.


Dikarenakan merasa terancam atas kejadian tersebut, para korban beserta kuasa hukumnya membuat pengaduan masyarakat (Dumas) dan melaporkan ke Polres Pelabuhan Belawan.


Kejadian berawal pada Sabtu (16/1/2021), ketika itu Nursila dan Benny (suami Nursila) datang membawa beberapa orang pria bekisar 10 orang yang korban sendiri tidak mengenalnya.


"Nursila dan Benny beserta beberapa orang pria tersebut datang membawa linggis, martil dan bermaksud untuk membongkar rumah ibu Jamilah (korban-red) istri dari almarhum Sukari," ujar Andi Ardianto, SH., selaku kuasa hukum korban, Rabu (20/1/2021).


Andi menjelaskan bahwa Nursila dan Benny beserta beberapa orang pria itu melakukan pengusiran dengan cara mengintimidasi terhadap Jamilah dan anaknya agar meninggalkan rumahnya dengan alasan rumah tersebut ingin mereka bongkar.


"Karena ibu Jamilah beserta anaknya tetap bertahan, maka pengusiran yang diduga diperintahkan oleh Nursila tersebut tidak tersampaikan. Namun para pelaku melakukan pemasangan pagar seng di halaman rumah itu dan tentunya korban menolak serta tidak memberikan izin," jelasnya.


Peristiwa yang tidak begitu jauh dari kediaman Kepala lingkungan (Kepling) V Kelurahan Terjun tersebut berujung keributan antara korban dan para pelaku. 


Saat keributan itu terjadi, Jamilah menjelaskan bahwa tanah beserta rumah tersebut merupakan milik almarhum Sukari yang tak lain adalah suaminya sendiri. Korban mengaku tidak pernah menjual ataupun menerima uang ganti rugi dari Nursila (Terlapor-red).


"Sebelumnya antara korban dengan terlapor telah saling gugat-menggugat secara hukum perdata di Pengadilan Negeri Medan. Dari gugatan-gugatan itu baik pemohon maupun gugatan terlapor masing-masing gugatannya diputus tidak diterima (N.O) dengan pertimbangan perkara tersebut termasuk ranah di Pengadilan Tata Usaha Negara," papar Andi.


"Dengan demikian tentu secara hukum rumah almarhum Sukari masih dalam status quo (berperkara) dan ibu Jamilah beserta kedua anaknya selaku ahli waris almarhum Sukari secara hukum masih berhak atas tanah dan rumah tersebut," tegasnya.


Lebih lanjut, Advokat muda ini mengemukakan bahwa gugat-menggugat tersebut terjadi dikarenakan terlapor telah membeli tanah dari Masriadi (anak tiri Jamilah), namun di dalam jual beli itu tidak berdasarkan hukum. Karena secara hukum belum ada pembagian mengenai harta warisan almarhum Sukari kepada ahli warisnya dan jual beli antara Masriadi dengan Nursila dilakukan tanpa persetujuan dari Jamilah dan kedua anaknya yang termasuk ahli waris yang sah.


"Dalam kasus ini masih ada sengketa waris antara pemohon dan Masriadi, jika Nursila mau menuntut, seharusnya menuntut Masriadi bukan pemohon," cetus Andi.


"Atas kejadian intimidasi tersebut, kami berharap kepada pihak Kepolisian khususnya Polres Pelabuhan Belawan beserta jajaran memberikan perlindungan hukum kepada korban. Kami juga meminta agar pihak Kepolisian dapat mengusut dan mengambil tindakan hukum yang telah dilakukan terlapor. Karena yang dilakukan oleh terlapor adalah tindakan kriminal dan sudah termasuk ke ranah pidana sebagaimana termaktub di dalam pasal 368 ayat 1 KUHP," pungkasnya.


(Ridwan) 

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Terkait Dumas, Polisi Diminta Usut Intimidasi Ibu dan Anak di Medan Marelan

Terkait

Iklan