Iklan

Iklan

Praktek Rentenir di Medan Berujung Gugat Pensiunan PNS ke Pengadilan

09/02/21, 09:46 WIB Last Updated 2021-02-09T02:46:56Z

foto : ilustrasi

MEDAN, NET24JAM.ID - Rentenir atau sering juga disebut tengkulak adalah usaha yang memberi pinjaman uang tidak resmi atau resmi dengan suku bunga tinggi. 


Praktik rentenir telah terjadi di Indonesia puluhan tahun lamanya. Meskipun mengenakan suku bunga pinjaman yang mencekik leher, namun ternyata praktek rentenir sulit diberantas sampai saat ini.


Bahkan terkadang praktek rentenir menggunakan intimidasi nasabahnya yang tidak bisa membayar pinjaman kepada mereka. 


Ironisnya, praktek rentenir di era modern ini tak jarang menyebut-nyebut nama oknum aparat penegak hukum untuk menakut-nakuti nasabahnya.


Biasanya target rentenir adalah mereka yang sedang dalam masa kesulitan dan membutuhkan pertolongan finansial secara instan.


Jika memiliki pinjaman dari praktek rentenir, maka akan mengalami masa-masa buruk dalam hidup.


Hal itu seperti yang dialami seorang ibu rumah tangga (IRT) bernama Julianti, S.Pd., (39) warga Kelurahan Besar Kecamatan Medan Labuhan Kota Medan Provinsi Sumatera Utara ini mengaku merasa dirugikan dan diintimidasi oleh seorang wanita berinisial BS beserta suaminya inisial S warga Jalan Budi Utomo Kelurahan Indra Kasih Kecamatan Medan Tembung itu yang disebut-sebut sebagai oknum rentenir.


Julianti didampingi sang suami bernama Awaluddin Nur (40), mengambil langkah hukum melalui Kantor Advokat Lubis & Rekan selaku kuasa hukumnya.


Mulanya, Julianti dan suaminya berkenalan dengan BS pada tahun 2020 yang lalu. Dikarenakan membutuhkan pembiayaan untuk bisnis sampingan dan dengan jaminan mobil Agya miliknya, Julianti meminjam uang kepada BS sebesar Rp80 Juta.


Ditahun yang sama, Julianti kembali meminjam uang sebesar Rp150 juta dengan menggadaikan mobil Terios miliknya kepada BS.


"Karena masih memerlukan suntikan dana untuk usahanya, klien kami kembali meminjam uang sebesar Rp200 juta lagi kepada BS. Sehingga total hutang ibu Julianti sebesar Rp430 juta," jelas Ketua Tim Kuasa Hukum Kantor Advokat Lubis & Rekan Rony Ansari Siregar, SH., kepada net24jam.id, Senin (8/2/2021).


Seiring berjalannya waktu, Julianti sudah beberapa kali mencicil hingga mencapai Rp251 juta dan ditambah Rp100 juta untuk pembayaran hutangnya kepada BS.


Dikarenakan Julianti terlambat membayar hutang, pada 30 hingga 31 Desember 2020 yang lalu, Julianti mendatangi rumah BS dan mengaku dalam keadaan diintimidasi dipaksa membuat surat pernyataan bahwa jumlah hutangnya sebesar Rp484 juta dan uang sebesar Rp375 juta yang dibayarnya hanya bunga saja dari hutang pokoknya.


"Saat itu ada pria yang mengenakan jaket dan mengaku oknum TNI berpangkat Kolonel, sambil menunjukkan sebuah nama satuan khusus TNI, saat itu saya tertekan tak bisa berbuat apa apa lagi, sehingga saya merasa terpaksa menandatangani surat pernyataan hutang saya sebesar Rp484 juta itu," sambung Julianti.


Guna menyelesaikan hal itu secara kekeluargaan, kuasa hukum Julianti mendatangi kediaman BS dan mendengarkan pengakuan BS bahwa cicilan hutang yang dibayar kliennya hanya bunganya saja. 


Selain itu, seorang pria mengaku anaknya BS juga mengatakan bahwa uang yang dipinjam Julianti tersebut milik seorang oknum TNI berpangkat Kolonel yang mengaku dekat dengan Kapolda Sumatera Utara dan Wakapolrestabes Medan.


"Kita sudah berupaya menyelesaikan secara kekeluargaan dan minta damai dengan baik-baik namun tidak menemukan solusi," ujar Rony.


Dia memaparkan bahwa pihaknya selaku kuasa hukum Julianti akan mengambil langkah hukum dengan melakukan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri Medan.


"Kami dari Kantor Advokat Lubis & Rekan, sebagai kuasa hukum ibu Julianti akan melakukan beberapa langkah hukum diantaranya sudah mendaftarkan gugatan perdata di Pengadilan Negeri Medan guna memperoleh penyelesaian hukum," Rony menandaskan.


(Ridwan)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Praktek Rentenir di Medan Berujung Gugat Pensiunan PNS ke Pengadilan

Terkait

Iklan