Iklan

Iklan

Santri di Simalungun Korban Kekerasan, Lembaga Perlindungan Anak Dipertanyakan

24/02/21, 13:32 WIB Last Updated 2021-02-24T06:34:31Z

Korban Kekerasan di Ponpes Al Barokah dengan luka memar.

Simalungun, NET24JAM.ID - Jawaban Mansyur Panggabean selaku Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara, saat dikonfirmasi awak media terkait kekecewaan keluarga korban kekerasan fisik yang terjadi di Pesantren Al Barokah Nagori Silinduk Kecamatan Dolok Batu Nanggar terhadap lembaga perlindungan anak yang dinilai berat sebelah dalam memediasi tersebut mendapat atensi dan tanggapan dari berbagai pihak


Termasuk dari salah satu anggota LPA sendiri di salah satu grup WhatsApp yang berkomentar "Kami sudah membahas ini di grup Komnas Perlindungan Anak Sumatera Utara 


Dalam hal ini jika benar Mansyur berpihak kepada pelaku.. kami Akan melakukan tindakan untuk menonaktifkan Bakan pemecatan secara tidak hormat," komennya.


Lembaga yang seharusnya berada ditengah  dalam memediasi karena kedua belah pihak adalah anak,  termasuk pelaku yang pada saat kejadian masih berstatus anak ini, malah terkesan hanya membela kepentingan pelaku tanpa ada memberikan keadilan dan perlindungan hukum terhadap AP sebagai korban. 


Saat dikonfirmasi awak media mansyur mengatakan tidak mengapa karena yang dilakukannya sesuai SOP cara kerjanya sebagai Lembaga Perlindungan Anak.


"Tidak apa-apa, Tak ada masalah itu mas, dalam penanganan kasus biasanya itu si A si B kecewa," jawabnya kepada awak media dan jawaban ini menunjukkan keberpihakan  dia kepada pelaku dan menurutnya karena si pelaku yang melapor kepadanya,  hal ini jelas mencoreng lembaga yang diandalkan anak untuk mendapat keadilan dan kepastian hukum menurut ikhsan


Lebih lanjut Ikhsan kepada awak media Selasa (23/2/2021) menjelaskan, jauh sebelum mansyur melibatkan diri dalam kasus ini karena adanya laporan dari pelaku,  orangtua korban melalui Penasehat Hukumnya telah melaporkan dan menyurati kasus ini ke Dinas PPA Kabupaten


"Jauh hari sebelum mansyur melibatkan diri dalam kasus ini karena adanya laporan dari pelaku, kami yang pada saat itu sebagai penasehat hukum korban melalui telah melaporkan dan menyurati kasus ini terlebih dahulu ke Dinas PPA Kabupaten Simalungun," jelas ikhsan


Sementara Ketua LPA sumut Muniruddin Ritonga saat dikonfirmasi awak media Selasa (23/2/2021) melalui pesan whatsapp terkait tindakan mansyur akan memanggil yang bersangkutan untuk dimintai keterangan


"Saya akan panggil yang bersangkutan dulu biar tau kita duduk persoalannya jika ada yg dilanggar akan kita evaluasi," jawab ritonga


Saat ditanya lebih lanjut apa sangsinya jika hal itu benar terjadi muniruddin ritonga menjawab "Kita gak bisa berandai andai bg.. Kita dalam menyelesaikan persoalan pasti objektif bg.."


Perlu diketahui sebelumnya diberitakan dunia pendidikan kembali tercoreng, ini terjadi di Pondok Pesantren Al Barokah yang ada di Nagori Silinduk Kecamatan Dolok Batu Nanggar Kabupaten Simalungun dimana santrinya AP (13)  siswa kelas VIII mengalami kekerasan fisik yang dilakukan seniornya berinisial IH (17) kelas XII di pesantren tersebut.


Berdalih hukuman fisik akibat melanggar peraturan yang berlaku di Pesantren Tersebut AP harus menanggung sakit akibat cubitan kakak seniornya di areal puting susunya, dan hal ini dilakukan bukan hanya sekali tapi berkali kali sehingga banyak meninggalkan luka beram diareal tersebut.


Tak tahan menahan perlakuan tersebut akhirnya AP nekat kabur dan pulang kerumah salah satu rekannya, yang sama-sama kabur dan mengalami hal yang serupa, hal ini sempat dimediasi di Polsek Serbelawan namun karena tidak ada kesepakatan akhirnya sampailah laporan Ke PPA polres Simalungun dengan nomor laporan nomor STPL/169/X/2020/SU/Simal tertanggal 23 Oktober 2020 namun hingga sampai saat ini masih sampai akan rekon ulang oleh PPA polres Simalungun 


"Pelaku sudah mengakui dan mungkin minggu ini kita akan rekon ulang bang," ujar Kanit PPA kepada awak media.


(Bambang)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Santri di Simalungun Korban Kekerasan, Lembaga Perlindungan Anak Dipertanyakan

Terkait

Iklan