Iklan

Soal Dinar dan Dirham di Pasar Muamalah Hingga Tanggapan Praktisi Hukum

05/02/21, 01:40 WIB Last Updated 2021-05-24T04:02:18Z

Eka Putra Zakran, SH.

MEDAN, NET24JAM.ID - Warganet sempat dibuat geger dengan munculnya Pasar Muamalah di daerah Depok, Jawa Barat. 


Pemicunya, pasar itu tidak bertransaksi menggunakan uang rupiah, akan tetapi menggunakan koin dinar dan dirham, juga bertukar barang.


Berdasarkan tayangan dari sebuah akun Youtube milik Arsip Nusantara, Pasar Muamalah berlokasi di sebuah ruko RT 3 RW 4, Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Beji Kota Depok. Pasar Muamalah sudah berada di Kelurahan Tanah Baru sejak tahun 2001.


Dari beberapa cuplikan video, nampak sejumlah makanan dan kebutuhan lain yang ditulis dengan harga barang dengan mata uang dirham dan koin dinar.


Pendiri pasar muamalah di Depok yang sempat viral tersebut yakni Zaim Saidi pria kelahiran Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, pada 21 November 1962.


Alumnus Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) ini ditangkap penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri. Diduga, Zaim ditangkap terkait bertransaksi menggunakan dinar dan dirham.


“Iya benar (terkait transaksi pakai dinar dan dirham),” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Polri, Brigjen Helmy Santika kepada wartawan, Rabu (3/2/2021) lalu.


Tanggapan Praktisi Hukum

Soal transaksi Dinar dan Dirham di Pasar Muamalah ini menuai tanggapan dari berbagai kalangan termasuk praktisi hukum.


Menanggapi hal itu, Eka Putra Zakran, SH., mengatakan bahwa pada zaman dahulu orang melakukan aktivitas transaksi dengan untuk mendapatkan barang dengan beragam cara. Mulai dari jual barang dengan uang dengan logam atau tukar barang dengan barang, dalam ilmu ekonomi disebut "barter" dan prilaku ini lazim dilakukan orang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik itu berupa kebutuhan primer, sekunder maupun tersier.


"Nah, yang tak lazim ditengah-tengah kehidupan bermasyarakat dari segi moral dan norma, baik itu norma adat, norma susila dan norma agama, tapi lain hal dengan norma hukum, yaitu perbuatan zina dengan modus suka sama suka," ujar pria yang akrab disapa Epza  kepada net24jam.id, Kamis (4/2/2021).


Menurutnya, bila dianalogikan atau dikiaskan dengan logika terbalik bahwa perbuatan transaksi pakai Dinar dan Dirham tersebut lebih baik daripada perbuatan zina.


"Secara hukum pidana orang dewasa (diatas 18 tahun) berzina atas dasar suka sama suka tidak dapat dikenai sanksi hukum kecuali salah satu pihak sudah beristri atau suami. Pasal 284 KUHP memang mengaturnya begitu, pelaku hubungan diluar nikah atas inisiatif suka sama suka tidak dapat dipidana," tutur Epza.


Dia menerangkan bahwa tidak tepat jika pemilik dan sekaligus pendiri pasar muamalah tersebut diancam pidana 15 tahun penjara. Menurut Epza hal itu terlalu naif, perlu adanya pengkajian khusus dan mendalam.


"Muncul pertanyaan, mungkinkah hubungan diluar nikah lebih mulia daripada transaksi ekonomi lewat uang Dirham? Artinya penerapan Pasal 9 UU No. 1 Tahun 1946 tentang KUHP dan Pasal 33 UU No. 7 tahun 2012 tentang mata uang dengan ancaman 15 Tahun Penjara dan/atau denda 200 juta sangat tidak adil dan tidak pas," cetus Epza.


Berdasarkan analisisnya, Epza berpendapat, sebenarnya tidak ada masalah transaksi tersebut selama tidak ada pemaksaan dan tidak ada pihak yang dirugikan.


"Katakanlah sama, terus mereka yang bertransaksi menggunakan Dinar dan Dirham tersebut pasti punya alasan dan keinginan yang sama tidak ada pemaksaan," tuturnya.


Keterangan Polri Terkait Asal Usul Dinar dan Dirham di Pasar Muamalah

Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menyebut Zaim Saidi memperoleh koin dinar dan dirham yang digunakan di Pasar Muamalah tersebut dari beberapa sumber diantaranya, koin emas dan perak itu dipesan dari PT Aneka Tambang (Antam) Kesultanan Bintan, Kesultanan Cirebon, dan Kesultanan Ternate.


“Dengan harga sesuai acuan PT Antam,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan dalam konferensi pers daring, pada Rabu (3/2/2021) lalu.


Selain itu, koin logam tersebut juga didapat dari pengrajin di daerah Pulo Mas Jakarta. Di sana, logam mulia tersebut dijual dengan harga lebih murah daripada harga acuan Antam.


Ahmad mengatakan koin tersebut kemudian digunakan sebagai alat tukar di Pasar Muamalah yang dikelola oleh Zaim Saidi.


Spesifikasinya, koin emas sebesar 4 seperempat gram emas 22 karat. Sementara koin perak digunakan sebagai dirham dengan 2,975 gram perak murni.


“Saat ini nilai tukar Dinar setara dengan Rp 4 juta, sedangkan Dirham Rp73.500,” ujarnya.


Selain membikin pasar, Ahmad mengatakan bahwa Zaim Saidi yang sudah berstatus tersangka, juga menyediakan jasa penukaran kedua mata uang tersebut. Setiap pembelian ditarik 2,5 persen sebagai margin keuntungan.


Sebagian koin Dinar dan Dirham menggunakan nama Zaim Saidi selaku penanggung jawab kandungan berat logam di dalamnya.


Alasan Dinar dan Dirham Dilarang Sebagai Alat Transaksi Pembayaran di Indonesia

Bank Indonesia (BI) mengungkapkan alasan tidak boleh menggunakan Dinar dan Dirham sebagai alat transaksi pembayaran di tanah air. Sebab, alat pembayaran yang sah di Indonesia hanya rupiah.


Direktur Eksekutif sekaligus Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan hal ini sesuai dengan ketentuan di Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.


Dalam beleid itu disebutkan, bahwa mata uang yang dikeluarkan negara hanyalah rupiah, sehingga menjadi alat pembayaran masyarakat.


"Kami menegaskan bahwa dinar, dirham atau bentuk-bentuk lainnya selain uang rupiah bukan merupakan alat pembayaran yang sah di wilayah NKRI," kata Erwin dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (4/2/2021).


Karenanya, bank sentral nasional mengimbau masyarakat hanya bertransaksi menggunakan alat pembayaran yang sah. 


Selain itu, pembayaran menggunakan Rupiah jauh lebih aman karena sudah diakui oleh negara sebagai alat pembayaran.


Pesan Terakhir Zaim Saidi Pendiri Pasar Muamalah Sebelum Ditangkap

Pendiri Pasar Muamalah Depok, Zaim Saidi, menyampaikan pesan terakhirnya sebelum ditangkap polisi karena kasus transaksi koin Dinar dan Dirham. 


Zaim Saidi berpamitan sembari meminta doa kepada para pengikutnya di media sosial.


Pesan itu disampaikan Zaim Saidi lewat akun Instagramnya, @zaim.saidi pada Selasa (2/2/2021) malam.


"Mohon doa kepada semuanya agar Allah memberikan perlindungan-Nya dan pertolongan-Nya kepada hambaNya. Dan memberikan kebenaran sebagai kebenaran. La haula walla quwatta illa billah. Hasbunallah wa nikmal wakil. Amin ya robbal alamin," tulis Zaim Saidi.


Kemudian, akun Instagram yang diikuti 147 ribu pengikut itu tak bisa diakses. Dia mengatakan malam itu adalah komunikasinya yang terakhir.


"Saya harus pamit dalam segala bentuk komunikasi kepada semua mulai malam ini. Ini terakhir saya ada akses berkomunikasi," ungkapnya.


(Ridwan-Sumber)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Soal Dinar dan Dirham di Pasar Muamalah Hingga Tanggapan Praktisi Hukum

Terkait

Iklan