Iklan

ELC Season 2 : "Revisi UU ITE Penting atau Tidak?"

Redaksi
30/03/21, 13:47 WIB Last Updated 2021-05-24T04:00:31Z



Medan, NET24JAM.ID - Kantor Hukum Eka Putra Zakran, SH & Associates bekerjasama dengan Program Pascasarjana Magister Ilmu Hukum Universitas Pembangunan Panca Budi (PPs MIH UNPAB) Medan menggelar kegiatan Epza Lawyer Club (ELC) season 2 mengangkat topik "Revisi UU ITE, Penting atau Tidak?" Kegiatan ini digelar di Hotel Madani Jalan SM Raja Medan Provinsi Sumatera Utara, pada Senin (29/3/2021). 


Diskusi kali ini menghadirkan para narasumber yang berkompeten di bidangnya, antara lain Drs. Shohibul Anshor Siregar, MSi., (Pengamat Sosial dan Politik/Ketua Basis), Dr. T. Riza Zarzani, SH, MH., (Akademisi/Kaprodi MH UNPAB) dan Mahmud Irsad Lubis, SH., (Praktisi Hukum/Ketua KAUM). 


Eka Putra Zakran, SH., pimpinan Kantor Hukum EPZA yang juga selaku penggagas kegiatan ELC dalam pengantar sambutannya menjelaskan, bahwa tujuan ELC adalah memberikan edukasi dan semangat serta pencerahan kepada masyarakat terkait perkembangan hukum nasional di Indonesia.


Saat ini berkembang isu tentang revisi UU ITE dan ini juga merupakan usulan dari Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Hal tersebut menurut penyelenggara dan narasumber menjadi menarik untuk dibahas dalam ELC season 2 ini. 


"Kedepan ELC akan terus berupaya melakukan membangun kerjasama dengan semua pihak untuk menghidupkan ruang diskusi guna mengkaji hukum yang berkembang ditengah masyarakat, tentunya dengan topik yang berbeda. Hal ini sesuai pula dengan tagline ELC, yaitu aktual, tajam dan tuntas," sebutnya.


Kegiatan ELC season 2  ini secara resmi dibuka oleh Dr. Yohny Anwar, SE, MM, MH, selaku Direktur Pascasarjana UNPAB Medan.


Yohny Anwar mengatakan kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan peningkatan suasana akademi di UNPAB yang bekerjasama dengan lembaga-lembaga eksternal, dalam hal ini dengan EPZA Law Firm.


“Kita menyadari perkembangan global teknologi informasi sangat bermanfaat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan perdagangan dan perekonomian, meningkatkan efektivitas pelayanan publik dan membuka seluas-luasnya kepada masyarakat untuk memajukan pemikiran di bidang teknologi informasi,” terangnya.


Lebih lanjut dia memaparkan perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat melahirkan perubahan kegiatan masyarakat dan mempengaruhi timbulnya perbuatan hukum. 


Selain itu, ekspresi kebebasan berpendapat harus memegang etika agar tidak terjerat pada kasus hukum pidana yang diatur dalam Undang-Undang ITE.


“Untuk itu diharapkan dengan digelarnya seminar berkaitan revisi Undang-Undang ITE dapat memberikan sumbangsih pemikiran ilmiah yang cerdas dan tajam demi terwujudnya aturan yang memberi rasa keadilan bagi masyarakat," tutup Yohny.


Sementara Mahmud Irsad Lubis dalam paparannya menyampaikan di era globalisasi saat ini teknologi komunikasi semakin berkembang, seiring berjalannya waktu dan sangat meningkat secara praktis. 


Menurutnya, perkembangan ini membawa pengaruh positif dan negatif. Ibarat pedang bermata dua, di satu sisi dapat memberikan peran peningkatan kesejahteraan dan disisi lain dapat dimanfaatkan untuk melakukan perbuatan melawan hukum.


Pemerintah membuat UU No. 11 tahun 2008 tentang ITE yang kemudian dirubah menjadi UU No. 19 tahun 2016 tujuannya adalah untuk memastikan transaksi elektronik atau e-commerce berjalan dengan baik dan hak-hak konsumen dapat terlindungi. 


Irsad mengatakan Undang-undang tersebut ada beberapa perumusannya yang bersifat multitafsir dan dianggap tidak memiliki tolak ukur yang jelas.


"Bahkan di lapangan terdapat salah paham dalam penerapan hukum, sehingga dapat menggangu kebebasan berekspresi. Pasal paling krusial terdapat pada Pasal 27 ayat (3) dan Pasal 28 ayat (2)," ujar Advokat yang menjabat sebagai Ketua KAUM itu.


Selanjutnya dalam sesi diskusi atau tanya jawab yang dipandu oleh Ronal Suhendri, SH selaku presiden ELC ada 3 orang peserta yang memberikan komentar, diantaranya Dr. Redyanto Sidi, SH MH yaitu dosen kriminologi UNPAB memberikan komentarnya, bahwa Revisi UU ITE adalah penting dilakukan, karena menurutnya masyarakat saat ini butuh keadilan dan kepastian hukum.


Kemudian yang kedua, Muhammad OK Hatta peserta dari Magister Hukum UNPAB memberikan komentar agar kiranya masing-masing peserta membuat atau menuliskan rekomendasi untuk mendukung revisi UU ITE tersebut. 


Terakhir Rahayu, mahasiswi magister hukum mempertanyakan mengenai sejauh mana kekuatan UU ITE dalam memberi perlindungan hukum kepada masyarakat?


(Rid/Epza)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • ELC Season 2 : "Revisi UU ITE Penting atau Tidak?"

Terkait

Iklan