Iklan

Iklan

Sidang Perkara KA dan WRP di PN Medan, KAUM Hadirkan Saksi A de Charge

08/04/21, 20:31 WIB Last Updated 2021-04-08T13:31:25Z



Medan, NET24JAM.ID - Sidang Perkara Nomor 151 dan 153/Pid.Sus/2021/PN.Mdn atas nama Khairi Amri (KA) dan Wahyu Rasasi Putri (WRP) Ketua dan Anggota KAMI Medan kembali digelar di Ruang Cakra 8 Pengadilan Negeri (PN) Medan dengan agenda keterangan Saksi A de charger dari pihak terdakwa, pada Rabu (7/4/2021).


Kepala Divisi Informasi dan Komunikasi (Kadiv Infokom), Eka Putra Zakran, SH., 

Korps Advokat Alumni UMSU (KAUM), advokat yang sering disapa Epza ini menyampaikan, bahwa pada persidangan kali ini pihaknya menghadirkan 2 orang saksi fakta untuk meringankan terdakwa.


Kedua saksi terdakwa tersebut yaitu Bebby Kartika Subandi alias bunda Gendis dan Mualna Sinaga alias bunda Aan. 


"Kedua saksi yang dihadirkan oleh terdakwa merupakan saksi yang meringankan atau disebut saksi A de Charge yaitu guna melakukan pembelaan atas dakwaan yang ditujukan bagi diri terdakwa. Hal ini diatur pada Pasal 65 KUHAP," jelas Epza. 


"Pada peristiwa aksi unjuk rasa menolak disahkannya Undang-Undang Omnibus Law di depan kantor DPRD Sumatera Utara, kedua saksi fakta kita tersebut memang berada ditempat kejadian perkara. Jadi paham betul mereka tentang peristiwa apa sebenarnya yang terjadi," sambungnya.


Epza memaparkan, terungkap dalam persidangan, sebelum pemeriksaan saksi A de charge, Jaksa Penuntut Umum (JPU)  meminta kepada Majelis Hakim untuk terlebih dahulu memeriksa Briptu Iman Saputra Harefa (penyidik polisi yang menyita barang bukti). 


Menurutnya karena ada perbedaan pernyataan antara KA yang menyebut uang di saku celana Rp230.000, sementara menurut Harefa Rp500.000,- beserta masker dan yang lainnya. 


Sementara Husni Tanjung selaku salah satu penasehat hukum terdakwa mempertanyakan kepada Harefa, apakah saksi ada melihat sejumlah uang saat KA diperiksa? Ada atau tidak saksi melihat itu? Lalu saat KA diperiksa, ada gak penasehat hukumnya? 


Kemudian secara tegas Harefa menjawab, "Tidak". Harefa hanya menerima serah terima barang bukti. Setelah pemeriksaan Briptu Harefa, sidang dilanjutkan dengan agenda pemeriksaan saksi A de Charge terhadap Bunda Gendis dan Bunda Aan secara sekaligus. 


Lain halnya, Bunda Aan dalam keterangannya mengatakan, bahwa dia mengenal kalau KA adalah ketua KAMI Medan akan tetapi tidak mengenal WRP. 


Bunda Aan mengaku mengetahui setelah setengah jam KA ditangkap oleh polisi di daerah lapangan merdeka. Lebih jauh bunda Aan menjelaskan kehadirannya ke lokasi aksi unjuk adalah untuk mencari anaknya. 


Ketika ditanya oleh Husni Tanjung, ada atau tidak KA mengajak orang untuk aksi unjuk rasa?  Dengan tegas Bunda Aan menjawab "tidak". Ketika ditanya di dalam grup WhatsApp ada atau tidak KA mengajak untuk membuat kerusuhan? secara tegas Bunda Aan kembali menjawab tidak. Ketika ditanya ada atau tidak KA menghasut ataupun mengajak aksi unjuk rasa pakai pengeras suara? Secara tegas Bunda Aan menjawab tidak ada. 


Selain itu, Bunda Gendis dalam keterangannya menjelaskan, bahwa dirinya bukan merupakan anggota KAMI Medan. 


Dia menjelaskan bahwa mereka ketemu secara kebetulan di dekat Masjid Pengadilan Negeri Medan usai shalat Ashar. 


Saat berjumpa mereka saling bertegur sapa tentang kabar masing-masing. Usai bincang-bincang mereka mau melihat aksi unjuk rasa yang kemudian dihadang oleh aparat kepolisian. 


"Karena mereka ditanya bukan mahasiswa, makanya diusir dan disuruh kembali lagi ke Masjid," ungkap Epza.


Dalam persidangan, ketika ditanya oleh Husni Tanjung, ada atau tidak KA membawa batu? secara tegas bunda gendis menjawab sama sekali KA tidak ada membawa batu dan tidak ada sedikitpun memprovokasi, makanya dia berani ketika mengetahui besok hari kalau KA ditangkap polisi lewat siaran televisi.


(Red/Ep)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Sidang Perkara KA dan WRP di PN Medan, KAUM Hadirkan Saksi A de Charge

Terkait

Iklan