Iklan

Fadjroel Rachman Jubir Presiden : Seorang Aktivis, Penulis Hingga Dipenjara di Nusakambangan

Redaksi
04/06/21, 12:16 WIB Last Updated 2021-06-04T05:16:52Z

Juru Bicara Presiden, Fadjroel Rachman.

Inilah sosok seorang Dr. Mochammad Fadjroel Rachman, S.E., M.H., alias Fadjroel Rachman juru bicara (Jubir) Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi).


Selain sebagai jubir Presiden, Fadjroel Rachman juga merangkap sebagai Staf Khusus Presiden Jokowi bidang Komunikasi.


Pada Selasa 22 Oktober 2019 yang lalu, Fadjroel Rachman diperkenalkan Jokowi menjadi juru bicaranya.


Pada tahun 2015-2020, Fadjroel Rachman diangkat menjadi Komisaris Utama PT Adhi Karya (Persero) Tbk., BUMN yang bergerak di bidang konstruksi. Saat ini (2020-sekarang), ia diangkat menjadi Komisaris PT Waskita Karya (Persero) Tbk., BUMN yang juga bergerak di bidang konstruksi.


Fadjroel Rachman lahir di Banjarmasin pada 17 Januari 1964. Pria berdarah Banjar ini merupakan pelajar teladan sejak Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas se-Kalimantan Selatan.


Setelah tamat SMA, pria berjiwa aktivis tersebut pergi ke pulau Jawa untuk kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan Kimia. Namun, pada tahun 1992, Fadjroel Rachman di-drop out (DO) oleh kampus. Berkat bantuan Rizal Ramli, ia direkomendasikan kembali kuliah di Universitas Indonesia.


Fadjroel mengambil kuliah Manajemen Keuangan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Magister Hukum (Ekonomi) di Pasca Sarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia (lulus dengan predikat Cum Laude). Fadjroel adalah Doktor Ilmu Komunikasi Pascasarjana FISIP Universitas Indonesia (Komunikasi Politik).


Orde Baru dan Runtuhnya Rezim Soeharto


Di ITB, Fadjroel aktif dalam cara sastra, pers, daya upaya budi, dan golongan studi, selang lain: Presiden Grup Apresiasi Sastra (GAS), Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan (PSIK), Kodim Sabtu (Golongan Diskusi Mahasiswa Sabtu), Badan Koordinasi Unit Cara (BKUA) ITB, Komite Pembelaan Mahasiswa (KPM) ITB, Majalah Ganesha ITB (Pendiri dan Ketua Dewan Redaksi), serta Golongan Sepuluh Bandung. 


Ia juga ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), organisasi profesi jurnalis, yang didirikan oleh para wartawan muda Indonesia pada 7 Agustus 1994 di Bogor, Jawa Barat, menempuh penandatangan Deklarasi Sirnagalih, sesudah pembredelan majalah Tempo, Editor dan Tabloid DeTik oleh rezim Soeharto. 


Di lembaga think-tank Forum Demokrasi yang dianggap daya oposisi utama melawan Soeharto dan Orde Baru, Fadjroel aktif sejak 1992 bersama Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Marsillam Simanjuntak, Theodorus Jacob Koekerits (Ondos), Arif Budiman, Todung Mulya Lubis, Rocky Gerung, Rahman Tolleng dan Bondan Gunawan.


Pada masa Orde Baru, akibat aktivitasnya menentang pemerintahan Jenderal besar Soeharto dan rezimnya, aktivis Anti korupsi ini ketika masih menjadi mahasiswa Institut Teknologi Bandung, Fadjroel Rachman bersama lima rekannya dipindah-pindah dari penjara satu ke penjara lainnya. 


Tak hanya itu saja, dari Rumah Tahanan Militer Bakorstanasda Jawa Barat, ia dipindah ke Penjara Kebonwaru, lalu ke Penjara Batu di Pulau Nusakambangan, dan terakhir di penjara Sukamiskin (tempat Ir. Soekarno Presiden Pertama Republik Indonesia dipenjarakan penjajah Belanda).


Fadjroel memilih meniti karir sebagai manajer pengembangan bisnis dan analis keuangan di Grup Bukaka, tetapi hanya bertahan selama tiga tahun.


Ia kemudian merintis usaha sendiri bersama kawan-kawannya sembari melanjutkan aktivisme dan melanjutkan kuliahnya di pascasarjana Universitas Indonesia (UI) bidang studi ekonomi dan hukum ekonomi.


Pada 18-21 Mei 1998, Fadjroel Rachman kembali terjun menjadi aktivis dengan statusnya sebagai Ketua Presidium Forum Mahasiswa Pascasarjana Universitas Indonesia Forum Wacana UI, bersama ribuan mahasiswa, kembali menuntut Soeharto turun dari kekuasaannya, hingga Soeharto mengundurkan diri dan Rezim Orde Baru dibubarkan.


Fadjroel adalah seorang pemikir, aktivis sosial demokrat, penyokong penuh Negara Kesejahteraan (Welfare State) seperti yang diimpikan para founding fathers Sutan Sjahrir (Perdana Menteri I Republik Indonesia) dan Mohammad Hatta (Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia), lihat Sutan Sjahrir dan Mohammad Hatta.


Pasca Reformasi 


Pada tanggal 28 Oktober 2007 bertempat di Gedung Arsip Nasional, Jl. Gajah Mada, Jakarta Barat, Jakarta Fadjroel Rachman bersama dengan teman-temannya mendeklarasikan Ikrar Kaum Muda Indonesia dengan tema sentral "Saatnya Kaum Muda Memimpin".


Pasca jatuhnya Soeharto dan Orde Baru, Fadjroel aktif menjadi presenter acara talkshow di radio dan televisi diantaranya JakNews FM, RRI, TVRI, Indosiar, SunTV, JakTV. 


Selain narasumber ekonomi-politik-hukum di SCTV, RCTI, MetroTV, NetTV, GlobalTV, KompasTV, dan narasumber tetap politik-hukum di Indonesia Lawyers Club TVOne yang diasuh Karni Ilyas.


Pria yang sangat aktif di semua media nasional ini yakni Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, bahkan menulis di The New York Times (6 Februari 2010) bersama aktivis 'kelas dunia' Wang Dan (China), Ko Bo Kyi (Myanmar), Nguyen Dan Que (Vietnam) untuk memperingati 20 tahun mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela dibebaskan dari penjara Apartheid Afrika Selatan.


Relawan Jokowi


Fadjroel Rachman menjadi relawan Salam Dua Jari (bersama Abdee 'Slank' Negara, Addie MS, Joko Anwar, Nia Dinata, Olga Lydia, Triawan Munaf, Andien Aisyah, Adib Hidayat, Glenn Fredly, dll) dan opinion makers Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam kampanye pemilihan presiden tahun 2014.


Ia juga menjadi juru bicara Panitia Nasional "Gerakan Ayo Kerja" untuk Peringatan 70 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang diketuai Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prof. Dr. Pratikno M.Soc.Sc dan dicanangkan Presiden Jokowi dari Nol Kilometer Indonesia 10 Maret 2015 di Kota Sabang, Provinsi Aceh dan berakhir di Kota Merauke, Provinsi Papua.


Setelah peristiwa penembakan brutal oleh sejumlah teroris di pertokoan Sarinah Mall Jakarta pada tanggal 14 Januari 2016, ia bersama sejumlah tokoh nasional seperti Goenawan Mohamad, Todung Mulya Lubis, Franz Magniz-Suseno, Yenny Wahid (putri mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid) membuat Gerakan Nasional #KamiTidakTakut (We Are Not Afraid) untuk mengajak semua rakyat Indonesia dan internasional bersama-sama melawan segala bentuk terorisme di Indonesia dan dunia.


Dirangkum oleh Ridwan dari Wikipedia dan berbagai sumber yang dapat dipercaya.

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Fadjroel Rachman Jubir Presiden : Seorang Aktivis, Penulis Hingga Dipenjara di Nusakambangan

Terkait

Iklan