Iklan

Iklan

Menakjubkan! Ternyata Indonesia Punya Deretan Rekor Tertua di Dunia

06/06/21, 22:49 WIB Last Updated 2021-06-06T15:49:25Z


Indonesia adalah negara di Asia Tenggara yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada di antara daratan benua Asia dan Australia, serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.


Indonesia merupakan negara yang berdiri melalui perjuangan pergerakan masyarakat. Karena masyarakat sadar bahwa persatuan adalah satu-satunya alat yang mampu memerdekakan negeri ini dari belenggu penjajahan. Tanpa persatuan, Indonesia mungkin tidak akan pernah merasakan kebebasan.


Selain dikenal dengan masyarakatnya yang heterogen, Indonesia juga memiliki hal lain yang telah dikenal oleh dunia. Salah satunya adalah deretan rekor yang dimiliki oleh Indonesia.


Kali ini, Sahabat Net24jam akan diajak untuk mengetahui rekor apa saja yang dimiliki Indonesia. 


Penasaran? Langsung saja simak artikelnya yang dirangkum dari sumber yang dapat dipercaya.


Candi dan Piramida Tertua



Indonesia ternyata menyimpan rekor tertua di bidang arkeologis. Rekor tersebut tersemat pada Situs Gunung Padang yang mana merupakan piramida atau candi tertua di dunia. 


Situs prasejarah yang berada di Kabupaten Cianjur ini merupakan peninggalan masa Megalitikum dan memang baru dipelajari akhir-akhir ini oleh para arkeolog.


Situs Gunung Padang merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat. Tepatnya berada di perbatasan Dusun Gunung Padang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur.


Situs ini diketahui dibangun sekitar 20 ribu tahun yang lalu. Perhitungan tersebut jauh berbeda dibandingkan dengan piramida tertua di Mesir yang dibangun kurang lebih 5 ribu tahun yang lalu. Situs dengan lahan seluas 3 hektar ini pun menjadi komplek punden berundak terbesar di kawasan Asia Tenggara.


Laporan pertama mengenai keberadaan situs ini dimuat pada Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (ROD, "Buletin Dinas Kepurbakalaan") tahun 1914. 


Sejarawan Belanda, N. J. Krom juga telah menyinggungnya pada tahun 1949. Setelah sempat terlupakan, pada tahun 1979 tiga penduduk setempat, Endi, Soma, dan Abidin, melaporkan kepada Edi, Penilik Kebudayaan Kecamatan Campaka, mengenai keberadaan tumpukan batu-batu persegi besar dengan berbagai ukuran yang tersusun dalam suatu tempat berundak yang mengarah ke Gunung Gede. 


Selanjutnya, bersama-sama dengan Kepala Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan Kebudayaan Kabupaten Cianjur, R. Adang Suwanda, ia mengadakan pengecekan. Tindak lanjutnya adalah kajian arkeologi, sejarah, dan geologi yang dilakukan Puslit Arkenas pada tahun 1979 terhadap situs ini.


Dahulu kala situs Gunung Padang diperkirakan adalah tempat pemujaan bagi masyarakat yang bermukim di sana pada sekitar 2000 tahun SM.


Hasil penelitian Rolan Mauludy dan Hokky Situngkir menunjukkan kemungkinan adanya pelibatan musik dari beberapa batu megalit yang ada.


Selain Gunung Padang, terdapat beberapa tapak lain di Cianjur yang merupakan peninggalan periode megalitikum/Zaman Batu.


Lukisan Gua Tertua di Dunia



Sahabat Net24jam mungkin sudah pernah mendengar tentang adanya lukisan gua yang berasal dari El Castillo, Spanyol. Lukisan tersebut diperkirakan telah berusia sekitar 37 ribu tahun dan sempat dinobatkan sebagai lukisan tertua di dunia.


Akan tetapi pada tahun 2014 silam, para ilmuwan dari Australia dan Indonesia berhasil mematahkan rekor tersebut ketika mereka menemukan sebuah lukisan tangan di daerah Leang Timpuseng, Karst Maros, Sulawesi.


Leang Timpuseng atau Gua Timpuseng adalah situs arkeologi dan berstatus cagar budaya berperingkat nasional yang ada di wilayah Kabupaten Maros. Situs berupa gua prasejarah ini terletak di perbukitan Karst Maros-Pangkep.


Nama "Leang Timpuseng" berasal dari Bahasa Bugis, yaitu leang bermakna "gua" dan timpuséng berarti "mata air yang tak pernah kering". Jadi gua ini dibahasakan sebagai gua yang berisikan mata air yang tak pernah kering.


Leang Timpuseng pertama kali ditemukan oleh masyarakat pada tahun 1989 dan dilaporkan kepada Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (SPSP) Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara serta pada tahun 1992 dilakukan pendataan. 


Pada tahun 2004 Pusat Penelitian Arkeologi Nasional melakukan penelitian di gua ini dengan hasil data distribusi gua dan lukisan yang ada di Kawasan Karst Maros-Pangkep. 


Penelitian kemudian dilanjutkan pada tahun 2012-2013 bekerjasama dengan Universitas Wollongong, Australia. Selain melakukan ekskavasi di Leang Bulu Bettue dengan data pertanggalan hunian yang mencapai ratusan ribu tahun, tim juga meneliti dan mempertanggal lukisan cadas di tujuh gua. 


Hasil pertanggalan di salah satu gua, yaitu Leang Timpuseng sangat menakjubkan. Dua lukisan yang di pertanggal dengan metode pertanggalan uranium series ternyata berumur sangat tua. Lukisan pertama merupakan cap tangan tertua di dunia, dengan umur minimum 39.900 tahun yang lalu, sedangkan babirusa berumur minimum 35.400 tahun yang lalu. 


Inilah lukisan cadas tertua di dunia setelah lukisan di Gua El Castillo di wilayah Cantabria, Spanyol Utara yang berumur sekitar 40,8 tahun lalu. 


Penerbitannya di majalah sientifik “Nature” yang sangat bergengsi menjadikan Leang Timpuseng menjadi perbincangan para ahli di lingkup internasional. 


Leang Timpuseng pun menjadi salah satu situs terpenting yang mengubah pandangan dunia tentang sejarah asal usul dan perkembangan lukisan gua.


Suku Tertua di Dunia



Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Bennet Bronson asal Amerika bersama tim Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Jakarta.


Hasil penelitian menemukan bahwa Suku Kerinci menjadi suku tertua di dunia karena telah ada sejak 10 ribu tahun yang lalu. Dengan penelitian tersebut, Suku Kerinci berhasil mengalahkan Suku Indian, Inka, bahkan Proto Melayu.


Suku kerinci adalah suku bangsa yang mendiami wilayah Kabupaten Kerinci, Kota Sungai Penuh, Jambi, Malaysia dan daerah lainnya.


Suku bangsa ini terbanyak berpusat di Kabupaten Kerinci yang terletak dekat perbatasan Provinsi Sumatera Barat. Secara Topografi Kabupaten Kerinci memiliki tanah berbukit dan berlembah dalam deretan Pegunungan Bukit Barisan dengan puncak tertinggi Gunung Kerinci.


Nama Kerinci berasal dari bahasa Tamil, yaitu nama bunga kurinji (Strobilanthes kunthiana) yang tumbuh di India Selatan pada ketinggian di atas 1800 m yang mekarnya satu kali selama dua belas tahun. 


Karena itu Kurinji juga merujuk pada kawasan pegunungan, dapat dipastikan bahwa hubungan Kerinci dengan India telah terjalin sejak lama dan nama Kerinci sendiri diberikan oleh pedagang India Tamil.


Bahasa Suku Kerinci termasuk ke dalam rumpun bahasa Austronesia, Melayu Polinesia Barat, keluarga bahasa Melayu-Minangkabau.


Sedangkan berdasarkan bahasa dan adat-istiadat termasuk dalam kategori Melayu proto, dan paling dekat dengan Minangkabau Melayu deutro dan Jambi Melayu deutro. 


Sebagian besar suku Kerinci menggunakan bahasa Kerinci, yang memiliki beragam dialek, yang bisa berbeda cukup jauh antara satu dusun dengan dusun lainnya di dalam wilayah Kabupaten Kerinci dan Kota Madya Sungai Penuh - setelah pemekaran wilayah tahun 2008 silam. 


Untuk berbicara dengan pendatang biasanya digunakan bahasa Melayu Jambi serta bahasa Minangkabau atau bahasa Indonesia (yang masih dikenal dengan sebutan Melayu Tinggi).


Suku Kerinci memiliki aksara yang disebut aksara incung yang merupakan salah satu variasi surat ulu.


Sebagian penulis seperti Van Vollenhoven memasukkan Kerinci ke dalam wilayah adat (adatrechtskring) Sumatera Selatan, sedangkan yang lainnya menganggap Kerinci sebagai wilayah rantau Minangkabau. Suku Kerinci merupakan masyarakat matrilineal.


Ras Tertua



Banyak anggapan bahwa ras tertua di dunia berasal dari Afrika, yaitu berasal dari suku San yang hidup di daratan tersebut sejak puluhan ribu tahun lalu. 


Akan tetapi menurut Dr Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald, seorang pakar paleontologi dan geologi berdarah Jerman-Belanda yang melakukan penelitian terhadap Homo erectus pada tahun 1678 mengatakan bahwa ras tertua di dunia ternyata adalah Ras Nusantara. 


Hal tersebut tercatat secara detail di Anthropoaleontologi Von Koningswald, Geologi Van Bemmelen, Purwayuga Pangeran Wangsakerta.


Menurutnya, pada dasarnya semua manusia modern di bumi ini berasal dari satu keturunan yaitu Ras Nusantara atau yang dikenal dengan nama lain Austronesia dan mendiami kepulauan yang bernama Dwipantara atau nama lain dari Indonesia sekarang ini.


Manusia modern pertama yang lahir di muka bumi ini berasal dari generasi Meganthropus paleo nusantaranicus yang menjadi cikal bakal lahirnya generasi Hominid dan Homo sapiens. 


Generasi ini diperkirakan sudah hidup di muka bumi sejak 1-4 juta tahun lalu. Bahkan banyak fosil dari manusia purba tertua di dunia yang ditemukan di Indonesia, salah satunya di Situs Trinil dan Sangiran.


Budaya Layangan Tertua



Kaghati adalah layangan khas dari Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, Indonesia[1]. Bagi masyarakat Muna, layang-layang merupakan bagian dari tradisi.


Selama ini layangan atau lebih dikenal dengan layang-layang, berasal dari negara Cina atau Tiongkok diklaim sebagai yang tertua di dunia.


Namun, Seorang ahli layang-layang internasional sekaligus antropolog bernama Wolfgang Bieck menyanggah fakta itu.[8] Dia mengklaim bahwa layangan dari Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, merupakan layang-layang pertama di dunia. 


Pernyataan Wolfgang itu berdasarkan temuannya di Gua Sugipatini, Desa Liang Kobori sekitar delapan kilometer dari Raha, ibu kota Pulau Muna.


Ketertarikan Wolfgang yang juga salah seorang Counsultant of Kite Aerial Photography Scientific Use of Kite Aerial Photography untuk meneliti keunikan Kaghati berawal dari sebuah festival layang-layang internasional, Berck sur Mer. Festival ini diselenggarakan di Prancis tahun 1997.


Di dinding batu Gua Sugipatini, Wolfgang menemukan lukisan tangan manusia yang menggambarkan seseorang sedang menerbangkan layangan. 


Lukisan itu dibuat menggunakan tinta warna merah dari oker atau campuran tanah liat dengan getah pohon. Dia memperkirakan Kaghati telah berumur 4.000 tahun.


Keberadaan lukisan di gua itu diperkirakan berasal dari masa 9.000 hingga 5.000 sebelum masehi (SM). Artinya, layangan itu lebih tua usianya dibandingkan permainan layang-layang di Tiongkok yang ditemukan pada 2.800 SM.


Hasil penelitian Wolfgang ini telah dipublikasikan pada sebuah majalah di Jerman bertajuk The First Kitman pada  tahun 2003.


Pada tahun 2014, Pemerintah Kabupaten Muna diminta untuk mengusulkan Kaghati, menjadi warisan dunia kepada UNESCO. Permintaan tersebut disampaikan Ketua Asosiasi Leggong Indonesia, Sari Majid saat menghadiri pembukaan Festival Layang-layang Internasional di Raha.


Itulah beberapa deretan rekor tertua yang dimiliki Indonesia yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber yang dapat dipercaya. Sebenarnya sih masih banyak rekor lainnya yang dipegang oleh negara Indonesia. Namun akan dituangkan pada artikel selanjutnya. Mari kita terus lestarikan adat istiadat dan budaya Indonesia.

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Menakjubkan! Ternyata Indonesia Punya Deretan Rekor Tertua di Dunia

Terkait

Iklan