Iklan

Oknum Polisi di Sumut Tampar Institusi Polri, Epza : Mari Dukung Kapolri Benahi Internal

Redaksi
27/10/21, 20:20 WIB Last Updated 2021-10-27T13:21:12Z

Eka Putra Zakran, SH, MH.

Medan, NET24JAM.ID - Melihat sepak terjang personil aparat Kepolisian beberapa bulan terakhir, baik secara nasional maupun lokal sangat memprihatinkan. 


Dikatakan demikian, banyak masalah yang muncul dan menyeruak ke ruang publik bak cambuk cemeti yang sedang menghantam institusi Polri. 


Tak terlepas masalah tersebut juga menjadi masalah personil aparat Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut).


Sepekan terakhir Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Panca Putra Simanjuntak telah mencopot dua pimpinan ujung tombak Kepolisian di wilayahnya karena dianggap bermasalah dan melanggar hukum dan disiplin organisasi, diantaranya Kapolsek dan Kanit yang bertugas di Polsek Percut Sei Tuan juga Kanit Reskrim dan Kapolsek Kutalimbaru.


Menyikapi hal itu, salah seorang praktisi hukum di Sumatera Utara,  Eka Putra Zakran, SH., MH., mengatakan bahwa pencopotan terhadap sejumlah pimpinan dan personil kepolisian tersebut merupakan konsekuensi dari banyaknya masalah-masalah yang muncul dari personil kepolisian yang kasat mata kita lihat beberapa bulan terakhir ini institusi Polri sedang diuji dengan banyaknya beragam dan berantai masalah.


Menurutnya, di satu sisi inilah fakta dan realitas sesungguhnya, ternyata banyak oknum nakal di tubuh Polri. Dari kasus yang mencuat para oknum nakal ini sangat disesalkan perilakunya. Mereka selain merusak citra organisasi Polri dari dalam tapi juga menampar wajah Polri secara keseluruhan.


Di sisi yang lain, permasalah oknum personil ini menjadi PR besar Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo agar institusi Polri menjadi lebih baik.


"Hemat saya ini momentum yang tepat sebenarnya bagi Kapolri untuk melakukan giat bersih-bersih di internal Polri. Dengan munculnya beragam masalah, maka dengan sendiri tersaring mana emas mana loyang," ujar pria yang akrab disapa Epza ini, Rabu (27/10/2021).


Ia berpendapat, segudang masalah yang menimpa Polri dua bulan terakhir ini harus dijadikan sebagai refleksi dan evaluasi secara komprehensif dan mendalam. Para personil yang bermasalah jangan dibela, tapi diberi sanksi tegas, baik administratif maupun pemecatan. 


"Pokoknya diberi sanksi sesuai besar kecil perbuatannya. Lalu yang unggul dan berprestasi diprioritaskan untuk melakukan terobosan dan perubahan mental serta mindset berpikir aparat kepolisian yang berintegritas dan berjiwa melayani. Intinya kembalikan polisi kepada tugas dan fungsinya sesuai undang-undang," urai Epza.


Sesuai Pasal 5 Ayat (1) UU No. 2 Tahun 2002, Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan alat negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri.


"Nah, jika kita lihat dan cermati, sesungguhnya sangat mulia sekali tugas, fungsi dan peran Kepolisian dalam pemerintahan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini," sebutnya.


"Sebab itu mari kita dukung Kapolri agar mampu membenahi dan memperbaiki sisi-sisi negatif citra Polri ulah oknum-oknum nakal ini. Mereka yang bersalah harus dihukum, jangan dibela, itu kata kuncinya, sepanjang mereka yang bersalah tetap dibela dan tidak diberi sanksi tegas maka selama itu juga institusi ini akan selalu bermasalah," ujarnya menambahkan.


Lebih lanjut, Epza mengemukakan bahwa Negara Indonesia negara hukum, sebab itulah hukum harus menjadi panglima Asas hukum aquality before the law, yaitu persamaan kedudukan setiap orang didepan hukum wajib kita junjung tinggi, artinya orang-orang yang bersalah sangat pantas mendapat sanksi hukum yang sama tanpa membedakan status sosial dan lain sebagainya.


Oleh karena itu, masih kata Epza, perbuatan penyidik Polsek Kutalimbaru yang melakukan pencabulan terhadap istri tersangka, pencurian motor dan pemerasan terhadap keluarga tersangka, sungguh tidak dapat ditolerir. 


Tindakan itu menurutnya bukan suatu bentuk kelalaian, tapi merupakan kejahatan yang nyata, yaitu adanya unsur permufakatan jahat yang direncanakan. Begitu juga hal dengan 11 oknum personil Polres Tanjung Balai yang menjual kembali barang bukti narkotika atau perbuatan penyidik Polsek Percut Sei Tuan yang menetapkan ibu penjual sayur yang sejatinya sebagai Korban malah jadi Tersangka, maka jelas ini adalah suatu perbuatan yang sangat fatal dan terkesan tidak profesional dalam mengemban tugas dan jabatan. 


"Harapannya, semoga Kapolri dapat melakukan perbaikan secara struktural dan mendasar, sehingga institusi Polri yang kita cintai ini dapat mengemban tugas, fungsi dan perannya sesuai ketentuan Undang-undang," tandas Epza.


(Ridwan)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Oknum Polisi di Sumut Tampar Institusi Polri, Epza : Mari Dukung Kapolri Benahi Internal

Terkait

Iklan