Iklan

Pemberdayaan Energi Baru PT. Inalum Optimis Janjikan Multiplier Effect Perekonomian Indonesia

11/12/21, 15:42 WIB Last Updated 2021-12-12T04:09:01Z



Batubara,NET24JAM.ID -                        PT. Indonesia Asahan Alumunium (Persero) atau biasa disebut Inalum merupakan BUMN Pertama dan Terbesar di Indonesia yang bergerak dibidang Peleburan Alumium yang mempunyai Visi menjadi Perusahaan Global Terkemuka Berbasis Alumunium Terpadu yang Ramah Lingkungan dan salah satu Misinya adalah Menjalankan Operasi Peleburan Alumunium Terpadu yang menguntungkan, Aman dan Ramah Lingkungan untuk meningkatkan nilai bagi pemangku kepentingan.



Potensi Alumunium baik secara Sumber Daya ataupun secara Market masih memiliki Potensi yang sangat besar di Indonesia dan Regional. 



Hal tersebut harus dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh Inalum sebagai Perusahaan yang Memproduksi Alumunium dengan Inovasi dan Kolaborasi dengan berbagai pihak, namun terkendala dengan pasokan tenaga listrik sehingga menghambat Kelancaran Produksi.




Direktur Operasi dan Portofolio PT. Inalum (Persero) Dany Praditya beberapa minggu yang lalu dalam acara kunjungan kerja Spesifik Komisi VII DPR-RI kekawasan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Paritohan Kabupaten Toba mengatakan, guna meningkatkan Inovasi pihaknya harus  berkolaborasi dengan berbagai pihak salah satunya adalah PT. PLN (Persero) untuk menambah Pasokan Energi Listrik guna peningkatan kapasitas Produksi Eksisting Inalum.



Korporasi Strategis yang dilakukan Inalum saat ini seperti Proyek Upgrading Teknologi Tungku Reduksi juga Optimalisasi Smelter Kuala Tanjung dan ada juga Pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery serta Pembangunan Alumunium Remelt diharapkan membuat Inalum mampu memenuhi kebutuhan pasar yang masih dibilang memiliki Potensi Besar di Indonesia secara Global saat ini dan mampu mendorong sektor Industrial Nasional lebih modern.




Langkah Inalum untuk memajukan industri alumunium dengan energi terbarukan ini mendapatkan banyak respon yang positif dan dukungan berbagai macam pihak, hal ini ditandai dengan kunjungan Komisi VII DPR-RI yang dihadiri Dirjen Ketenaga Listrikan Kementerian ESDM-RI Rida Mulyana dengan melakukan peninjauan ke sejumlah lokasi seperti PLTA PT. Inalum (Persero), PLTA Sigura-gura, PLTA Asahan 3 PT. PLN (Persero) dan PLTA 1 Asahan PT. Bajra Daya Sentra Nusa (BDSN), dalam kunjungannya Ketua Komisi VII DPR-RI Sugeng Suparwoto didampingi timnya yakni, Bambang Wuryanto, Novri Opusunggu, Lamhot Sinaga, dan juga Nasril Bahar.




Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana bahkan mengatakan Kementerian ESDM terus mendorong langkah-langkah strategis dari pelaku Industri khususnya BUMN untuk bersinergi dengan memanfaatkan Energi terbarukan dalam setiap kegiatan operasionalnya sehingga dapat mempercepat Visi Hilirisasi Industri Nasional.



“Kami juga mendorong BUMN yang bergerak dalam sektor Industri untuk terus memanfaatkan dan mengembangkan Energi terbarukan sebagai komitmen Indonesia untuk melakukan pengembangan Ekonomi Jijau dan Transisi Energi Fosil ke energi baru terbarukan,”ujar Rida.




Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Arifin Tasrif pada saat menghadiri pembukaan Webinar Pekan Inovasi Energi Baru dan Terbarukan bahwa saat ini masih banyak Potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia yang belum dikembangkan, sebagian besar pemanfaatan EBT dari Energi Hidro, Panas Bumi dan Bioenergi.



Pengembangan Variable Renewable Energi (VRE) seperti Energi Surya dan Angin juga perlu ditingkatkan, pada tahun 2020 Kontribusi EBT pada Bauran Energi Nasional mencapai 11,2% sedangkan target Nasional sebesar 23% ditahun 2025.




Arifin juga mengatakan bahwa Pemerintah akan terus berupaya mengatasi isu terkait Akses Energi, Teknologi Cerdas dan Bersih dan pembiayaan Sektor Energi sebagai langkah dalam mendukung pencapaian target Paris Agreement.



“Bahwa saat ini Pemerintah sedang menyusun Grand Strategi Energi Nasional (GSEN) dimana Visi GSEN untuk terwujudnya Bauran Energi Nasional berdasarkan Prinsip Keadilan, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan guna terciptanya Ketahanan, Kemandirian dan Kedaulatan Energi.” terangkan Arifin.




Apa itu Energi Baru Terbarukan ?Energi Baru Terbarukan adalah sejenis Energi yang diperoleh dari Sumber Daya Alam Bumi yang tidak terbatas atau tidak ada habisnya, seperti angin dan sinar matahari, energi baru terbarukan adalah Alternatif Energi Tradisional yang mengandalkan bahan bakar Fosil dan cenderung tidak terlalu berbahaya bagi lingkungan.





Menurut Badan Energi Internasional (IEA) Sumber Energi terbarukan menyumbang 26% dari Listrik Dunia saat ini dan akan mencapai 30% pada tahun 2024 dan pada tahun 2020 Inggris mencapai tonggak sejarah Energi terbarukan yang menakjubkan.




Ada beberapa Energi Baru Terbarukan (EBT) yang dapat menjadi pilihan Alternatif bagi Inalum untuk berinovasi memajukan dan meningkatkan Produksi Industri Alumunium selain ramah lingkungan juga dapat meminimalisir Cost Produksi yaitu :

Energi Surya jenis energi terbarukan ini diperoleh dengan menangkap energi radiasi dari sinar matahari dan mengubahnya menjadi panas, listrik atau air panas. 

Sistem fotovoltaik (PV) dapat mengubah sinar matahari langsung menjadi listrik melalui penggunaan sel surya, manfaat energi matahari merupakan energi yang tidak terbatas yang berarti dapat membuat bahan bakar dengan mengandalkan energi matahari juga dapat meningkatkan kesehatan masyarakat dan ramah lingkungan, dalam jangka panjang, energi surya juga dapat menghilangkan biaya energi, dan dalam jangka pendek. 

Mengurangi tagihan energi  

Tenaga Angin, dengan menangkap energi aliran angin menggunakan Turbin dan mengubahnya menjadi Listrik dan manfaat dari energi jenis ini sangat banyak selain itu juga  merupakan sumber energi bersih artinya tidak mencemari udara seperti bentuk energi lain, energi angin tidak menghasilkan karbondioksida atau melepaskan produk berbahaya yang dapat merusak lingkungan atau berdampak Negatif terhadap kesehatan manusia seperti kabut asap, hujan asam atau gas penangkap panas lainnya.




Hidro Elektrik jenis energi yang menggunakan air banyak orang mengasumsikan dengan bendungan, air mengalir melalui turbin bendungan untuk menghasilkan listrik dan ini dikenal sebagian banyak orang dengan sebutan PLTA dan jenis energi ini yang sekarang banyak digunakan sebagai energi Pembangkit Listrik

Panas Bumi, energi jenis ini energi panas bumi yang terperangkap dibawah kerak bumi.

Panas ini dapat ditangkap dan digunakan untuk menghasilkan jenis energi panas bumi dengan menggunakan Uap yang berasal dari pemompaan air panas di bawah permukaan, yang kemudian naik ke atas dan dapat digunakan untuk mengoperasikan turbin. 

Namun dalam hal kerugian energi panas bumi dan tidak hanya mahal untuk membangun Infrastruktur, tetapi kekhawatiran utama lainnya adalah kerentanannya terhadap gempa  bumi di wilayah tertentu di dunia.




Lautan dapat manghasilkan dua jenis energi : Termal dan Mekanik. 

Energi panas laut bergantung pada suhu permukaan air hangat untuk menghasilkan energi melalui berbagai sistem yang berbeda.  Energi mekanik Samudra menggunakan pasang surut air laut untuk menghasilkan energi, yang dihasilkan oleh Rotasi bMBumi dan gMGravitasi dari Bulan. 



Potensi energi gelombang adalah sumber energi yang menakjubkan yang belum dimanfaatkan dengan perkiraan kemampuan untuk menghasilkan 2.640 TWh / tahun. 

Hanya 1 TWh/tahun  energi dapat memberi daya sekitar 93.850 rumah rata-rata di AS dengan listrik setiap tahunnya. Namun kerugian lain dari energi laut adalah dapat mengganggu banyak Ekosistem Laut yang Rapuh.



Meskipun merupakan energi yang sangat bersih mesin besar perlu dibangun didekatnya untuk membantu menangkap energi bentuk ini  dan faktor lain yang perlu diperhatikan  adalah cuaca, Faktor ketika cuaca buruk terjadi maka konsistensi gelombang berubah, sehingga menghasilkan keluaran energi yang lebih rendah jika dibandingkan dengan gelombang normal tanpa cuaca badai.




Pemerintah mengupayakan agar penggunaan energi baru terbarukan bisa dimaksimalkan, namun kenyataannya banyak menghadapi kendala. 

Dengan menargetkan peningkatan energi terbarukan dari 5% pada 2015 menjadi 23% pada tahun 2025 namun hal itu tidak tercapai.



Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Informasi Energi dan Material (TIEM) Eniya Listiani Dewi menjelaskan perhitungan target penggunaan EBT tahun 2020 sebesar 13,3% dan diprediksi pada tahun 2025 hanya 14,6%.




Pembicara kunci Webinar, Direktur Bioenergi Dirjen EBT Kementerian ESDM Andriah Feby Misna membenarkan bahwa target penggunaan energi baru dan terbarukan ini belum maksimal,


"Total Potensi EBT ada 417,8 GW dari berbagai sumber EBT, tapi pemanfaattannya  baru 10,5 GW atau 2,5%. Gerakan menuju energi ramah lingkungan harus terus dilakukan, ini kerjasama untuk bisa mewujudkan target,” jelaskan Andriah.


Dani Praditya selaku Direktur  Operasi dan Portofolio PT INALUM (Persero), Pada intinya menyampaikan bahwa Eksistensi Inalum akan memberikan Multiplier Effect yang besar bagi perekonomian Indonesia melalui Hilirisasi dan Integrasi Klaster Industri Alumunium Nasional, dimulai dari pengolahan bahan baku, rantai pasok hingga CSR dan Pajak yang pada akhirnya ikut memajukan perekonomian dan Ketahanan Industri Indonesia, karena pada prinsipnya Inalum sebagai BUMN akan selalu dan terus memberikan kinerja terbaik untuk kebermanfaatan yang lebih besar bagi Rakyat Indonesia.




Penulis : Bambang Hardianto.

Lomba Karya Tulis Jurnalist dalam Rangka 46 Tahun PT. Inalum.


Dengan Thema ;

“Industri Alumunium, Inovasi dan Energi Terbarukan Nasional."

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Pemberdayaan Energi Baru PT. Inalum Optimis Janjikan Multiplier Effect Perekonomian Indonesia

Terkait

Iklan